Risale-i NurSinar-Sinar

TINGKATAN KETIGA CAHAYA HASBIYAH

Sinar-Sinar · hlm. 77

Tatkala iman menanamkan ke dalam hatiku bahwa aku adalah calon penerima kebahagiaan yang kekal di dunia yang abadi dan di negeri yang kekal — sebab karena tekanan berbagai perantauan, penyakit, dan perlakuan zalim itu aku mendapati hubunganku dengan dunia telah terputus — aku pun berhenti mengucapkan "Aduh, aduh!" dan berkata, "Oh, alangkah leganya!" Akan tetapi, aku berpikir bahwa terwujudnya tujuan angan-angan, sasaran ruh, dan hasil fitrah ini hanya dan hanya dapat terjadi dengan kudrat yang tidak terhingga dari Sang Qadîr Mutlak — yang mengetahui dan mencatat seluruh gerak dan diam, seluruh keadaan dan amal semua makhluk, baik dalam ucapan maupun dalam perbuatan; yang menjadikan manusia yang mungil dan lemah secara mutlak ini sebagai sahabat dan lawan bicara-Nya; dan yang memberinya kedudukan di atas seluruh makhluk — serta dengan inayah dan perhatian-Nya yang tanpa batas kepada manusia. Maka pada dua titik ini, yakni tentang bekerjanya kudrat yang demikian dan tentang pentingnya secara hakiki manusia yang secara lahir tampak tidak penting ini, aku memohon suatu penjelasan yang membuka iman dan menenteramkan hati.

Aku kembali merujuk kepada ayat itu, lalu ia berkata: "Perhatikanlah نَا yang ada pada حَسْبُنَا, dan dengarkanlah siapa saja yang bersamamu mengucapkan حَسْبُنَا dengan lisan keadaan dan lisan ucapan!" Demikianlah ia memerintahkan.

Tiba-tiba aku melihat bahwa burung-burung dan burung-burung kecil yang tidak terhingga, lalat-lalat, hewan besar dan hewan kecil yang tak terhitung, tumbuh-tumbuhan dan tunas-tunas hijau yang tanpa batas, serta pepohonan dan pohon-pohon kecil yang tak berhingga pun, seperti aku, dengan lisan keadaan menyebut dan mengingatkan makna حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ; yaitu bahwa mereka memiliki Wakil yang menanggung seluruh syarat kehidupan mereka, yang dari telur-telur yang serupa satu sama lain dan yang zatnya satu, dari

tetes-tetes air yang bagaikan serupa satu sama lain, dari biji-biji yang bagaikan sama persis satu sama lain, dan dari benih-benih yang mirip satu sama lain, menciptakan dan membuat ratusan ribu macam burung, ratusan ribu bentuk hewan, ratusan ribu jenis tumbuhan, dan ratusan ribu golongan pohon — tanpa salah, tanpa kurang, tanpa tertukar, indah, dengan timbangan, teratur, terpisah satu dari yang lain, dan dengan tanda pembeda masing-masing — di depan mata kita, terutama pada setiap musim semi, dengan sangat cepat, sangat mudah, dalam lingkaran yang sangat luas, dan dalam jumlah yang sangat banyak. Di dalam keagungan dan kebesaran kudrat-Nya, penciptaan mereka yang serentak, serupa, saling berkelindan, dan dalam satu cara memperlihatkan kepada kita kesatuan dan ahadiyah-Nya. Dan hal itu memberitahukan bahwa campur tangan serta penyertaan pada perbuatan rububiyah dan pada tasarruf penciptaan yang menampilkan mukjizat tak terhingga seperti itu adalah mustahil. Demikianlah yang aku ketahui.

Kemudian aku memandang kepada "ana" yang terdapat di dalam نَا pada حَسْبُنَا, yakni kepada nafsuku sendiri, dan aku melihat bahwa: Zat yang menciptakan aku pun di antara hewan-hewan, dari setetes air yang menjadi asalku, telah menjadikanku ada dan membuatku dengan cara yang menakjubkan; Dia membuka telingaku dan memasang mataku; Dia meletakkan di kepalaku otak yang sedemikian rupa, di dadaku kalbu yang sedemikian rupa, dan di mulutku lidah yang sedemikian rupa, sehingga di dalam otak, kalbu, dan lidah itu Dia menciptakan, membuat, dan menuliskan ratusan timbangan mungil dan alat ukur kecil yang akan menimbang dan mengenali semua hadiah serta pemberian Rahmani yang tersimpan di dalam seluruh perbendaharaan rahmat-Nya, juga ribuan perangkat yang akan membuka dan memahami khazanah manifestasi asmaul husna yang tidak berkesudahan; lalu Dia memberikan kepada perangkat-perangkat itu, sebanyak jumlah aroma, rasa, dan warna, daftar-daftar petunjuk sebagai pembantunya.

Di samping menanamkan di dalam tubuhku ini — dengan keteraturan yang sempurna — perasaan dan rasa yang begitu peka serta latifah-latifah maknawi dan indra-indra batin yang sangat teratur ini, Dia juga menciptakan di dalam wujudku ini, dengan hikmah yang sempurna, perangkat-perangkat dan anggota-anggota tubuh yang penuh seni, serta demikian banyak organ dan alat yang sangat diperlukan lagi sempurna bagi kehidupan manusia. Semua itu agar Dia mengecapkan dan merasakan kepadaku seluruh macam dan segala jenis nikmat-Nya, serta agar dengan perasaan, rasa, dan kepekaan itu Dia memberitahukan dan membuatku menikmati kemunculan yang berbeda-beda dari tajalli asma-Nya yang tidak terhingga.

Dan wujudku yang tampak tidak penting, hina, lagi fakir ini — sebagaimana wujud setiap mukmin — telah Dia ciptakan sebagai kalender dan buku harian yang indah bagi kainat; sebagai salinan ringkas yang teramat bercahaya bagi alam yang lebih besar; sebagai miniatur bagi dunia ini; sebagai mukjizat yang paling nyata bagi ciptaan-ciptaan-Nya; sebagai pembeli yang menginginkan setiap jenis nikmat-Nya sekaligus sumber bagi munculnya nikmat itu; sebagai mazhar yang bagaikan sentral bagi hukum-hukum rububiyah-Nya dan bagi kawat-kawat pelaksanaan-Nya; sebagai sebuah daftar dan indeks yang bagaikan kebun percontohan bagi pemberian dan bunga-bunga hikmah serta rahmat-Nya; dan sebagai lawan bicara yang memahami seruan-seruan Subhani-Nya; dan bersamaan dengan

itu semua, Dia memberikan kehidupan untuk membesarkan dan melipatgandakan nikmat terbesar, yaitu wujud, di dalam wujudku ini. Dan dengan kehidupan itu, nikmat wujudku dapat mengembang seluas alam nyata.

Lalu Dia memberikan kemanusiaan; dengan kemanusiaan itu, nikmat wujud tersebut berkembang di alam maknawi dan alam materi, lalu terbukalah jalan untuk mengambil manfaat dari hidangan-hidangan yang luas itu melalui perasaan-perasaan khusus manusia.

Lalu Dia menganugerahkan Islam kepadaku. Dengan Islam itu, nikmat wujud tersebut meluas seluas alam gaib dan alam nyata.

Lalu Dia menganugerahkan iman tahkiki. Dengan iman itu, nikmat wujud tersebut merangkum dunia dan akhirat.

Lalu di dalam iman itu Dia memberikan makrifat dan kecintaan kepada-Nya. Dengan makrifat dan kecintaan itu Dia menganugerahkan suatu tingkatan yang membuat nikmat wujud tersebut dapat mengulurkan tangannya — seraya memanjatkan hamd dan pujian — untuk mengambil manfaat dari lingkaran segala yang mungkin ada sampai ke alam wujub dan sampai ke lingkaran asma Ilahi.

Lalu secara khusus Dia memberikan ilmu Al-Qur'an dan hikmah iman. Dengan karunia itu Dia memberikan keunggulan atas banyak makhluk, dan melalui banyak segi seperti poin-poin yang telah lalu Dia memberikan sifat yang mencakup segala sesuatu, sedemikian rupa sehingga Dia menganugerahkan potensi yang dapat menjadi cermin yang sempurna bagi ahadiyah dan shamadiyah-Nya, serta dapat menyambut rububiyah-Nya yang menyeluruh lagi suci dengan ubudiyah yang luas dan menyeluruh.

Dan dengan ijmak seluruh kitab suci, suhuf, serta firman yang Dia turunkan kepada manusia melalui para nabi, dan dengan kesepakatan seluruh nabi, wali, dan asfiya, Dia membeli dariku — dengan nas ayat Al-Qur'an — wujudku, hidupku, dan nafsuku yang merupakan amanah, hadiah, dan pemberian-Nya yang ada padaku. Agar semuanya tidak sia-sia lenyap di tanganku, melainkan terjaga untuk dikembalikan; dan dengan ilmul yakin serta iman yang sempurna aku memahami bahwa Dia telah berjanji dan berikrar secara pasti dan berulang-ulang akan memberikan kebahagiaan abadi dan surga sebagai harga penjualan itu.

Dan dari Ayat Hasbiyah ini aku mengambil pelajaran bahwa aku memiliki Rabb, Zat Dzul-Jalâli wal-Ikrâm, yang dengan nama "Al-Fattâh" membuka bentuk ratusan ribu jenis dan macam hewan serta tumbuhan yang tidak terhingga itu dari tetes-tetes air dan biji-biji yang terbatas lagi serupa, dengan sangat mudah, sangat cepat, dan sangat sempurna; yang memberikan perhatian sedemikian menakjubkan kepada manusia sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya; dan yang menjadikan manusia sebagai sumber bagi urusan-urusan penting rububiyah-Nya — dan bahwa Dia akan mengadakan kebangkitan (hasyr), menganugerahkan surga, serta menciptakan kebahagiaan abadi dengan cara yang semudah, sepasti, dan seyakin penciptaan musim semi yang akan datang. Seandainya aku sanggup, aku akan mengucapkannya dengan perbuatan nyata; dan karena tidak

sanggup, maka dengan niat, dengan gambaran batin, dan dengan khayal, dengan lisan seluruh makhluk aku berkata: حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ dan aku ingin mengulanginya selama-lamanya.