TINGKATAN KEDUA CAHAYA HASBIYAH
Sinar-Sinar · hlm. 75
Beserta kelemahanku yang tak terhingga di dalam fitrahku, dalam keadaan tua, terasing di negeri orang, tanpa seorang pun di sisiku, dan terkucil; pada saat ahli dunia dengan segala tipu daya dan mata-mata mereka
menyerang diriku, aku berkata di dalam hatiku: "Sekian banyak pasukan menyerbu satu orang yang terikat tangannya, lemah, lagi sakit. Tidakkah orang malang itu — yakni aku — memiliki satu titik sandaran?" Dengan pertanyaan itu, aku merujuk kepada ayat حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ
Ayat itu memberitahuku: dengan surat pertalian iman, engkau bersandar kepada Sang Qadîr Mutlak, sultan yang setiap musim semi di muka bumi memberikan seluruh perangkat pasukan tumbuhan dan hewan yang tersusun dari empat ratus ribu umat dengan keteraturan yang sempurna; di samping itu, setiap tahun Dia memperbarui pakaian dua pasukan-Nya yang amat besar, yang disebut pepohonan dan burung-burung, lalu mengenakan kepada mereka busana yang baru dan mengganti jubah serta seragam mereka. Dan sebagaimana Dia memperbarui gaun dan kerudung ayam serta burung, demikian pula Dia mengganti pakaian gunung dan penutup wajah padang sahara.
Dan seluruh rezeki pasukan hewan yang amat besar, dengan manusia sebagai yang terdepan, Dia letakkan bukan sekadar seperti sari daging, gula, dan berbagai makanan lain yang baru ditemukan manusia beradab pada masa akhir ini, melainkan seratus derajat lebih sempurna daripada sari-sari peradaban itu: Dia meletakkannya di dalam sari-sari Rahmani dari setiap jenis makanan, yang disebut biji dan benih; lalu sari-sari itu pun Dia bungkus bersama daftar-daftar takdir mengenai cara memasak dan mengembangkannya, kemudian Dia tempatkan dan titipkan di dalam peti-peti mungil demi menjaganya. Pembuatan peti-peti kecil itu di pabrik "kâf-nûn" demikian cepat, mudah, dan berlimpah sehingga Al-Qur'an berfirman: "Ia dijadikan hanya dengan satu perintah."
Lagi pula, meskipun seluruh saripati itu tidak sampai memenuhi satu kota, meskipun ia serupa satu sama lain dan tersusun dari zat yang sama, aneka hidangan yang sangat beragam dan lezat yang dimasak oleh Ar-Razzâq Yang Mahamulia dari saripati itu dalam satu musim panas saja dapat memenuhi seluruh kota di muka bumi dari satu segi.
Maka engkau, karena dengan surat pertalian iman dapat menemukan titik sandaran seperti itu, dapat bersandar kepada kekuatan dan kudrat yang tidak terhingga.
Aku pun, setiap kali mengambil pelajaran ini dari ayat tersebut, menemukan kekuatan maknawi sedemikian rupa sehingga aku merasakan suatu daya iman yang membuatku sanggup menantang bukan hanya musuh-musuhku sekarang, bahkan seluruh dunia; lalu dengan segenap ruhku aku berkata: حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ Dan dari sisi kefakiran serta kebutuhanku yang tidak terhingga pun, aku kembali merujuk kepada ayat itu untuk mencari titik tempat memohon pertolongan.
Ia berkata kepadaku: "Dengan pertalian sebagai milik dan sebagai hamba, engkau bernisbat kepada Sang Mâlik Yang Mahamulia dan namamu tercatat di dalam daftar pemberian rezeki-Nya; sedemikian rupa sehingga pada setiap musim semi dan musim panas, dari alam gaib, dari yang tidak ada sama sekali, dari tempat yang tidak terduga, dan dari sebidang tanah
yang kering, dengan cara mengangkat dan menurunkan, Dia menghias dan membentangkan hidangan bumi ratusan kali dengan makanan yang berbeda-beda. Seakan-akan tahun-tahun zaman dan hari-hari setiap tahun adalah wadah bagi buah-buah karunia dan hidangan rahmat yang datang beriringan, dan sekaligus pameran bagi tingkatan pemberian Ar-Razzâq Yang Rahîm, baik yang menyeluruh maupun yang juz'i. Maka engkau adalah hamba dari Sang Ganiyy Mutlak yang seperti itu. Jika engkau sadar bahwa engkau seorang hamba, kefakiranmu yang pedih akan menjadi selera yang lezat."
Aku pun mengambil pelajaran itu. Bersama nafsuku aku berkata, "Benar, benar, memang demikian." Lalu dengan penuh tawakal aku berkata: حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ