Risale-i NurSinar-Sinar

TINGKATAN PERTAMA CAHAYA HASBIYAH

Sinar-Sinar · hlm. 70

Cinta kepada kekekalan yang ada padaku itu bukanlah tertuju kepada kekekalan diriku sendiri; melainkan, karena di dalam hakikat diriku terdapat sebuah bayangan dari satu manifestasi salah satu nama Zat Dzul-Kamâl lagi Dzul-Jamâl, Sang Pemilik kesempurnaan mutlak yang dicintai dengan sendirinya tanpa sebab apa pun, maka kecintaan fitri dalam fitrahku — yang sejatinya tertuju kepada wujud, kesempurnaan, dan kekekalan Sang Kâmil Mutlak itu — telah tersesat jalannya karena lalai, lalu berpegang kepada bayangan dan jatuh cinta kepada kekalnya cermin. Lalu حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ datang dan menyingkapkan tabir itu.

Aku melihat, aku merasakan, dan dengan haqqul yakin aku mengecap bahwa kelezatan dan kebahagiaan dari kekalnya diriku itu — sama persis, bahkan dalam bentuk yang jauh lebih sempurna — terdapat di dalam imanku, keyakinanku, dan kemantapan hatiku kepada kekekalan Sang Bâqî Dzul-Kamâl dan kepada kenyataan bahwa Dia adalah Rabb-ku dan Ilah-ku. Sebab, dengan kekekalan-Nya, tegaklah bagiku sebuah hakikat yang tidak akan pernah mati. Karena, dengan kesadaran iman, menjadi mantaplah bahwa hakikat diriku ini adalah bayangan dari sebuah nama yang kekal lagi abadi, sehingga ia tidak akan mati lagi.

Dan dengan kesadaran iman itu pula, tatkala diketahui bahwa kesempurnaan mutlak yang merupakan Kekasih Mutlak itu benar-benar ada, terpuaskanlah kecintaan zati yang dahsyat lagi fitri itu.

Dan dengan kesadaran iman yang berkaitan dengan kekekalan dan wujud Sang Bâqî Yang Abadi itu, diketahui dan didapatilah segala kesempurnaan kainat dan jenis manusia; lalu rasa terpesona yang fitri terhadap kesempurnaan itu terlepas dari derita yang tak terhingga dan meraih zauk serta kelezatannya.

Dan dengan kesadaran iman itu timbullah sebuah pertalian dengan Sang Bâqî Yang Abadi; dengan pertalian iman itu timbul pula sebuah hubungan dengan seluruh kerajaan-Nya; dan dengan hubungan yang lahir dari pertalian itu, ia memandang kerajaan yang tak terhingga tersebut dengan mata iman seolah-olah ia turut memilikinya, lalu mengambil manfaat secara maknawi.

Dan dengan kesadaran iman, pertalian, serta hubungan itu, timbullah sebuah kaitan, semacam pertautan, dengan seluruh yang ada. Dalam keadaan demikian, pada tingkat kedua, selain wujud dirinya sendiri, ada pula baginya wujud yang tak terhingga; dari segi kesadaran iman, pertalian, hubungan, kaitan, dan pertautan itu, wujud yang tak terhingga tersebut seakan-akan menjadi semacam wujudnya sendiri; lalu tenanglah cinta fitri terhadap wujud.

Dan dari segi kesadaran iman, pertalian, hubungan, dan kaitan itu, timbullah persaudaraan dengan seluruh ahli kesempurnaan. Dalam keadaan demikian, dengan mengetahui bahwa berkat wujud dan kekekalan Sang Bâqî Yang Abadi para ahli kesempurnaan yang tak terhingga itu tidak binasa dan tidak sia-sia, maka kekalnya sekian banyak sahabat yang ia hargai dan ia puji, yang kepada mereka ia terikat dan bersahabat, beserta berlanjutnya kesempurnaan mereka, memberikan zauk yang tinggi kepada pemilik kesadaran iman itu.

Dan dengan perantaraan kesadaran iman, pertalian, hubungan, kaitan, dan persaudaraan itu, aku melihat bahwa dengan kebahagiaan seluruh sahabatku — yang demi kebahagiaan mereka aku dengan senang hati mengorbankan hidup dan kekekalanku — aku dapat merasakan kebahagiaan yang tak terhingga di dalam diriku.

Sebab, dengan kebahagiaan seorang sahabat yang tulus, sahabatnya yang penuh kasih pun turut berbahagia dan merasakan kelezatan. Maka dengan kekekalan dan wujud Sang Bâqî Dzul-Kamâl, aku merasakan dengan kesadaran iman itu bahwa — terutama Rasul Yang Termulia صلى الله عليه وسلم beserta keluarga dan para sahabatnya — seluruh junjunganku dan kekasihku, yaitu para nabi, para wali, para asfiya, serta seluruh sahabatku yang tak terhingga lainnya, telah terlepas dari hukuman mati abadi dan meraih kebahagiaan yang kekal selamanya. Dan aku mengecap bahwa dengan rahasia hubungan, kaitan, persaudaraan, dan persahabatan itu, kebahagiaan mereka terpantul kepadaku dan membuatku berbahagia.

Dan dengan kesadaran iman itu, aku terlepas dari derita yang tak terhingga yang datang dari rasa iba terhadap sesama dan kasih sayang kepada kerabat, lalu aku merasakan zauk ruhani yang tak terhingga. Sebab, dengan kekekalan dan wujud Sang Bâqî Yang Hakiki, para ayahku dan para ibuku serta seluruh kerabatku, baik dari garis keturunan, dari nasab, maupun secara maknawi — yaitu mereka yang demi keselamatannya dari segala bahaya aku secara fitri ingin mengorbankan hidup dan kekekalanku dengan penuh kebanggaan — terlepas dari binasa, dari lenyap sama sekali, dan dari

hukuman mati abadi serta dari derita yang tak terhingga, lalu mereka meraih rahmat-Nya yang tak terhingga; semua itu kurasakan dengan kesadaran iman. Dan aku mendengar serta merasakan bahwa sebagai ganti kasih sayangku yang juz'i dan tak berpengaruh, yang justru menjadi sumber duka dan derita, ada rahmat yang tiada berujung yang mengawasi dan melindungi mereka. Sebagaimana seorang ibu merasakan kelezatan dengan kelezatan, zauk, dan kenyamanan anaknya, demikian pula aku merasakan zauk, merasa lapang, dan bersyukur dengan sangat dalam karena selamat dan tenangnya semua orang yang kukasihi itu di bawah naungan rahmat tersebut.

Dan dengan kesadaran iman itu, melalui pertalian iman tersebut, aku mengetahui, aku merasakan, dan aku meyakini bahwa Risale-i Nur — yang merupakan hasil hidupku, sebab kebahagiaanku, dan tugas fitrahku — pun terlepas dari hilang, dari binasa, dari menjadi tak berguna, dan dari kering secara maknawi; bahkan ia tetap kekal serta berbuah. Aku merasakan kelezatan maknawi yang jauh melebihi kelezatan dari kekalnya diriku sendiri, dan aku merasakannya dengan sepenuhnya.

Sebab, aku beriman bahwa dengan kekekalan dan wujud Sang Bâqî Dzul-Kamâl, Risale-i Nur bukan hanya terukir di dalam ingatan dan hati manusia; bahkan, di samping menjadi tempat telaah bagi makhluk berkesadaran dan makhluk-makhluk ruhani yang tak terhingga banyaknya, jika ia meraih rida Allah, ia pun tergambar di dalam Lauh Mahfuz dan pada lembaran-lembaran yang terpelihara, lalu berhias dengan buah-buah pahala. Dan aku mengetahui bahwa — terutama karena ia bertalian dengan Al-Qur'an, karena ia diterima oleh Nabi صلى الله عليه وسلم, dan insya Allah karena ia diridai Allah — keberadaannya walau sesaat serta tertujunya pandangan rububiyah-Nya kepadanya jauh lebih berharga daripada seluruh pujian ahli dunia.

Maka aku pun mengetahui bahwa aku senantiasa siap mengorbankan hidup dan kekekalanku demi kekalnya, berlanjutnya, tersampaikannya, dan diterimanya setiap risalah dari Risale-i Nur yang membuktikan hakikat-hakikat iman itu; dan aku mengetahui bahwa kebahagiaanku terletak pada khidmah risalah-risalah itu kepada Al-Qur'an. Dalam keadaan demikian, dengan pertalian iman itu aku memahami bahwa berkat kekekalan Allah, risalah-risalah tersebut meraih penghargaan yang seratus derajat lebih tinggi daripada pujian manusia. Dengan segenap kekuatanku aku berkata: حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ

Dan dengan kesadaran iman itu, aku mengetahui bahwa iman kepada kekekalan dan wujud Sang Bâqî Dzul-Jalâl, yang menganugerahkan kekekalan abadi dan hidup yang terus-menerus, beserta buah-buah iman seperti amal saleh, semuanya adalah buah-buah kekal dari kehidupan fana ini dan menjadi sarana bagi kekekalan yang abadi. Seperti sebutir benih yang meninggalkan kulitnya agar berubah menjadi pohon yang berbuah, aku pun membujuk nafsuku

agar meninggalkan kulit kekekalan duniawi ini demi memberikan buah-buah kekal tersebut. Bersama nafsuku aku berkata: حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ — kekekalan-Nya sudah cukup bagi kami.

Dan dengan kesadaran iman serta pertalian ubudiyah, aku mengetahui dengan ilmul yakin bahwa di balik tabir tanah itu bercahaya; bahwa lapisan tanah yang berat pun terangkat dari atas orang-orang yang telah mati; dan bahwa perut bumi yang dimasuki melalui pintu kubur itu bukanlah tempat yang gelap gulita lagi berlumur dengan lenyapnya segala sesuatu. Dengan segenap kekuatanku aku berkata: حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ

Dan aku merasakan dengan sangat pasti serta mengetahui dengan haqqul yakin melalui kesadaran iman itu bahwa cinta kepada kekekalan yang teramat dahsyat di dalam fitrahku, yang sedang memandang kepada kekekalan dan wujud Sang Bâqî Dzul-Kamâl dari dua segi, kulihat telah berubah — karena ananiyah (keakuan) menurunkan tabirnya — menjadi seorang linglung yang kehilangan kekasihnya lalu menyembah cerminnya. Dan aku merasakan bahwa cinta kepada kekekalan yang teramat dalam lagi kuat itu berkuasa di dalam hakikat diriku melalui perantaraan bayangan salah satu nama kesempurnaan mutlak yang dicintai dan disembah secara fitri, dengan sendirinya dan tanpa sebab apa pun; nama itulah yang menganugerahkan cinta kepada kekekalan tersebut. Padahal kesempurnaan Zat-Nya — yang untuk dicintai tidak menuntut alasan apa pun, tidak menuntut maksud apa pun, dan tidak memerlukan sebab apa pun selain Zat-Nya sendiri — sudah cukup dan memadai untuk disembah; namun Dia masih pula menganugerahkan buah-buah kekal yang telah kami sebutkan di muka, yaitu buah-buah yang untuk setiap satunya layak dikorbankan bukan hanya satu hidup dan satu kekekalan, melainkan, sekiranya mampu, ribuan hidup duniawi beserta kekekalannya — sehingga cinta fitri itu makin dahsyat. Sekiranya aku mampu, dengan seluruh zarah tubuhku aku akan berkata: حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ dan dengan niat itulah aku mengucapkannya.

Dan kesadaran iman yang mencari kekekalan dirinya lalu menemukan kekekalan Allah itu — yang sebagian buahnya telah kuisyaratkan di muka dengan rangkaian "Dan... Dan... Dan..." — memberiku zauk dan kerinduan yang sedemikian rupa sehingga dengan segenap ruhku, dengan segenap kekuatanku, dan di lubuk hatiku yang terdalam, bersama nafsuku aku berkata:

حَسْب۪ى مِنَ الْبَقَاءِ لَذَّةً وَ سَعَادَةً ا۪يمَان۪ى وَ شُعُور۪ى وَ اِذْعَان۪ى بِاَنَّهُ هُوَ اِلٰهِىَ الْبَاق۪ى حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ