Risale-i NurSinar-Sinar

Poin Keempat

Sinar-Sinar · hlm. 91

Sebagaimana jasad bersandar kepada ruh, lalu tegak berdiri dan hidup; dan lafaz menghadap kepada makna, lalu bercahaya sesuai dengan makna itu; dan bentuk lahiriah bersandar kepada hakikat, lalu mengambil nilai darinya.

Demikian pula, alam nyata yang bersifat materi dan jasmani ini pun adalah sebuah jasad, sebuah lafaz, dan sebuah bentuk; ia bersandar kepada asma Ilahi yang berada di balik tabir alam gaib, lalu hidup, berpegang teguh, memperoleh nyawa, menghadap kepada asma itu, dan menjadi indah. Seluruh keindahan materi muncul dari keindahan maknawi milik hakikat dan makna dirinya sendiri. Adapun hakikat-hakikat itu menerima limpahan karunia dari asma Ilahi dan merupakan semacam bayangan darinya. Hakikat ini telah dibuktikan secara pasti di dalam Risale-i Nur.

Jadi, segenap macam dan ragam keindahan yang terdapat di kainat ini adalah manifestasi, isyarat, dan tanda-tanda—melalui perantaraan asma—dari sebuah keindahan yang bertajalli di balik alam gaib, yang mahasuci dari cacat dan terlepas dari materi. Akan tetapi, sebagaimana Zat Yang Mahasuci dari Wâjibul Wujûd sama sekali tidak menyerupai selain-Nya dari segi mana pun, dan sifat-sifat-Nya tiada terhingga tingginya dibandingkan sifat-sifat segala yang mungkin ada; demikian pula keindahan-Nya yang mahasuci tidak menyerupai kebagusan segala yang mungkin ada dan seluruh makhluk, bahkan tiada terhingga lebih tinggi lagi lebih agung.

Ya, keindahan yang kekal abadi—yang surga seluas itu dengan segenap kebagusan dan keindahannya hanyalah satu manifestasi darinya, dan yang menyaksikannya satu jam saja membuat ahli surga melupakan surga—sudah pasti tidak mungkin memiliki batas akhir, tidak ada yang menyamainya, tidak ada yang menandinginya, dan tidak ada yang serupa dengannya.

Sudah dimaklumi bahwa kebagusan segala sesuatu itu sesuai dengan dirinya sendiri, terdapat dalam ribuan bentuk, dan keindahannya pun berbeda-beda sebagaimana berbedanya jenis-jenisnya. Misalnya, sebagaimana keindahan yang dirasakan oleh mata tidak sama dengan kebagusan yang dirasakan oleh telinga, dan kebagusan akal yang dipahami oleh akal tidak sama dengan kebagusan rasa makanan yang dicicipi oleh mulut; demikian pula keindahan-keindahan yang dipandang bagus dan dirasakan indah oleh hati, ruh, serta segenap indra lahir dan batin lainnya, berbeda-beda sebagaimana berbedanya indra-indra itu.

Misalnya, sebagaimana keindahan iman, keindahan hakikat, kebagusan cahaya, kebagusan bunga, keindahan ruh, keindahan bentuk, keindahan kasih sayang, keindahan keadilan, kebagusan rahmat, dan kebagusan hikmah semuanya berbeda-beda; demikian pula, karena keindahan Asmaul Husna milik Sang Jamîl Dzul-Jalâl—yang indah sampai ke puncak yang tiada terhingga—juga berbeda-beda satu sama lain, maka kebagusan yang terdapat pada segenap yang ada pun jatuh berbeda-beda.

Jika engkau ingin menyaksikan satu manifestasi dari kebagusan-kebagusan yang ada pada asma Sang Jamîl Dzul-Jalâl di dalam cermin-cermin segenap yang ada, ambillah sebuah mata khayal yang luas, yang mampu memandang permukaan bumi bagaikan sebuah taman kecil,

lalu pandanglah dengannya; dan ketahuilah pula bahwa ungkapan seperti rahmaniyah, rahimiyah, hakimiyah, dan adiliyah memberi isyarat kepada nama, perbuatan, sifat, sekaligus syuun Allah.

Maka lihatlah rezeki seluruh hewan—terutama manusia—yang datang secara teratur dari balik tabir gaib, dan saksikanlah keindahan rahmaniyah Ilahi.

Pandanglah pula pemberian makan yang penuh mukjizat kepada seluruh anak makhluk, serta dua pompa kecil berisi susu yang manis, jernih, dan bagaikan air Kausar, yang tergantung di atas kepala mereka pada dada ibu-ibu mereka; lalu saksikanlah keindahan rahimiyah Rabbani yang memikat hati.

Pandanglah pula, lihatlah keindahan yang tiada bandingnya dari hakimiyah Ilahi yang menjadikan seluruh kainat beserta segenap jenisnya sebagai kitab hikmah yang mahabesar—kitab yang setiap hurufnya berkedudukan sebagai seratus kata, setiap katanya sebagai seratusan baris, setiap barisnya sebagai seribu bab, dan setiap babnya sebagai ribuan kitab kecil.

Pandanglah pula, lihatlah keindahan yang penuh keagungan dari sebuah adiliyah yang mengambil kainat beserta segenap yang ada di dalamnya ke bawah timbangan-Nya; yang terus melanggengkan keseimbangan seluruh benda langit, baik yang tinggi maupun yang rendah; yang memberikan keserasian, yang merupakan asas terpenting bagi keindahan; yang membuat setiap sesuatu memperoleh keadaan yang paling indah; yang memberikan hak hidup kepada setiap makhluk hidup lalu menegakkan hak itu; serta yang menghentikan dan menghukum para pelampau batas.

Lihatlah pula bagaimana Allah menuliskan riwayat hidup manusia yang telah lalu di dalam daya ingatnya yang sekecil biji gandum, dan menuliskan riwayat hidup kedua yang akan datang bagi setiap tumbuhan dan pohon di dalam bijinya; lihatlah pula alat dan perangkat yang diperlukan untuk menjaga setiap makhluk hidup—misalnya sayap-sayap kecil lebah dan jarum beracunnya, sangkur-sangkur kecil pada bunga-bunga berduri, serta kulit keras biji-bijian—lalu saksikanlah keindahan yang penuh kelembutan dari hafîziyah dan hâfiziyah Rabbani.

Lihatlah pula, di atas hamparan hidangan bumi, aneka aroma harum yang berbeda-beda dari hidangan tiada terhingga yang disiapkan oleh rahmat bagi para tamu Ar-Rahmân Ar-Rahîm, Sang Karîm Mutlak; lihatlah warna-warninya yang beragam lagi berhias, cita rasanya yang bermacam-macam lagi lezat, serta perangkat-perangkat yang menolong setiap makhluk hidup untuk menikmati kelezatan dan kesenangan; lalu saksikanlah keindahan yang teramat manis dan kebagusan yang teramat lezat dari ikram dan karimiyah Rabbani.

Lihatlah pula, dengan tajalli nama Al-Fattâh dan Al-Musawwir, sekian banyak rupa yang sarat makna dari seluruh hewan—terutama manusia—yang dibukakan dari tetes-tetes air, serta apa yang dibukakan dari biji dan butir-butir zarah bunga-bunga musim semi,

yakni wajah-wajah yang sangat memikat itu; pandanglah, lalu saksikanlah keindahan yang penuh mukjizat dari fattahiyah dan musawwiriyah Ilahi.

Maka, dengan mengiaskan kepada contoh-contoh yang telah disebutkan itu, setiap satu dari Asmaul Husna memiliki keindahan mahasuci yang khas bagi dirinya, sedemikian rupa sehingga satu manifestasinya saja memperindah sebuah alam yang luas dan satu jenis makhluk yang tiada terhingga. Sebagaimana engkau melihat manifestasi keindahan satu nama pada sekuntum bunga, maka musim semi pun adalah sekuntum bunga, dan surga pun adalah sekuntum bunga yang belum pernah terlihat. Jika engkau mampu memandang musim semi secara utuh dan mampu melihat surga dengan mata iman, pandanglah dan lihatlah. Pahamilah betapa agung derajat Keindahan Yang Kekal Abadi itu.

Jika engkau menyambut keindahan itu dengan keindahan iman dan keindahan ubudiyah, engkau akan menjadi makhluk yang sangat indah.

Sebaliknya, jika engkau menyambut dan menghadapinya dengan keburukan yang tiada terhingga dari jalan yang sesat serta dengan keburukan durhaka yang dibenci, selain menjadi makhluk yang paling buruk, engkau juga akan menjadi sosok yang dibenci secara maknawi oleh segenap yang ada yang indah. Poin Kelima: Sebagaimana seorang yang memiliki ratusan kepandaian, seni, kesempurnaan, dan keindahan—sesuai dengan kaidah bahwa setiap kepandaian ingin memamerkan dirinya, setiap seni yang indah ingin membuat dirinya dihargai, setiap kesempurnaan ingin menampakkan dirinya, dan setiap keindahan ingin memperlihatkan dirinya—orang itu pun membangun sebuah istana yang menakjubkan, yang akan memperkenalkan, memamerkan, dan memperlihatkan seluruh kepandaian, seni, kesempurnaan, dan kebagusan tersembunyi miliknya. Siapa saja yang memandang istana penuh mukjizat itu, seketika ia berpindah kepada kepandaian, kebagusan, dan kesempurnaan sang pembuat dan pemiliknya; ia pun percaya dan membenarkan seolah-olah melihatnya dengan mata kepala sendiri, lalu berkata: "Seorang yang tidak indah dan tidak pandai dari segala sisi mustahil menjadi sumber, pengada, dan penemu tanpa contoh bagi sebuah karya yang indah dari segala sisi seperti ini. Bahkan, kebagusan dan kesempurnaan maknawinya seakan-akan berwujud nyata dalam istana ini." Demikianlah ia memutuskan.

Demikian pula, siapa pun yang melihat kebagusan pameran keajaiban dan istana megah yang disebut kainat ini, selama akalnya tidak lapuk dan hatinya tidak rusak, pasti akan berpindah kepada kesimpulan bahwa istana ini adalah sebuah cermin yang dihias sedemikian rupa untuk memperlihatkan keindahan dan kesempurnaan Zat lain. Ya, karena istana alam ini tidak memiliki tandingan lain yang darinya keindahan-keindahannya dapat dikutip dan ditiru, maka sudah pasti dan tentu saja Sang Pembuatnya memiliki keindahan yang layak bagi diri-Nya pada Zat dan asma-Nya; dari sanalah kainat mengutip keindahan itu, menurut keindahan itulah kainat dibuat, dan untuk mengungkapkan keindahan itulah kainat ditulis bagaikan sebuah kitab.

BURHAN KETIGA memiliki tiga nukta. Nukta Pertama: Ia adalah sebuah hakikat yang telah diterangkan dengan penjelasan yang sangat indah dan dengan hujah-hujah yang kuat di dalam Mauqif Ketiga dari Kelimat Ketiga Puluh Dua. Perinciannya kami serahkan kepada risalah itu, dan di sini kami hanya akan memandangnya dengan satu isyarat singkat, yaitu demikian:

Kita memandang kepada ciptaan-ciptaan ini, terutama kepada hewan dan tumbuhan, lalu kita melihat bahwa padanya berlaku suatu tindakan menghias dan memperindah yang terus-menerus — yang menunjukkan adanya maksud dan kehendak serta memberitahukan adanya ilmu dan hikmah — dan suatu tindakan menata dan mempercantik yang mustahil disandarkan kepada kebetulan.

Selain itu, demi membuat seni-Nya disukai, demi menarik perhatian, dan demi menyenangkan hati ciptaan-Nya serta para penonton-Nya, pada setiap sesuatu tampak seni yang begitu halus, hikmah yang begitu lembut, perhiasan yang begitu tinggi, susunan yang penuh kasih sayang, dan keadaan yang begitu manis. Dengan sangat nyata dapat dipahami bahwa di balik tabir gaib ada Sang Seniman yang ingin memberitahukan dan memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk berkesadaran; Zat yang, dengan setiap karya seni-Nya, memamerkan banyak kepandaian dan kesempurnaan-Nya, lalu dengan itu ingin membuat diri-Nya dicintai dan ingin agar diri-Nya dipuji serta disanjung.

Selain itu, demi menjadikan makhluk-makhluk berkesadaran itu berterima kasih, bergembira, dan menjadi sahabat-Nya, Dia menganugerahkan kepada mereka setiap ragam nikmat yang lezat, dari arah yang tidak disangka-sangka dan dengan cara yang mustahil disandarkan kepada kebetulan.

Selain itu, tampak suatu perlakuan maknawi yang penuh kemuliaan dan suatu perkenalan yang membuat terasa adanya kasih sayang yang mendalam dan rahmat yang tinggi; tampak pula percakapan yang penuh persahabatan melalui lisan keadaan, serta sambutan yang penuh rahmat terhadap doa-doa mereka.

Jadi, pemuliaan berupa memberi kelezatan dan melimpahkan nikmat yang disaksikan di balik keadaan memperkenalkan diri dan membuat diri-Nya dicintai — keadaan yang nyata bagai matahari ini — sungguh bersumber dari kehendak kasih sayang yang sangat mendasar dan dari keinginan rahmat yang sangat kuat.

Adapun adanya kehendak kasih sayang dan rahmat yang sekuat itu pada Zat Yang Mahakaya secara mutlak, yang sama sekali tidak berhajat kepada apa pun dari segi mana pun, pasti dan mesti menunjukkan bahwa ada keindahan tiada tara pada puncak kesempurnaan, kebagusan azali yang tidak pernah sirna, dan kecantikan yang kekal abadi — keindahan yang ingin melihat dan memperlihatkan diri-Nya di dalam cermin-cermin, yang menampakkan diri merupakan tuntutan hakikat diri-Nya dan yang tampil menonjol merupakan sifat asali hakikat-Nya. Keindahan itu, agar dapat melihat dan memperlihatkan diri-Nya di dalam berbagai cermin, telah masuk ke dalam bentuk rahmat dan kasih sayang; kemudian di dalam cermin-cermin makhluk berkesadaran ia mengambil bentuk pemberian nikmat dan anugerah; kemudian ia mengenakan keadaan tahabbub dan taaruf — yakni memperkenalkan

dan memberitahukan diri-Nya — lalu ia memberikan cahaya yang menghiasi dan memperindah ciptaan-ciptaan. Nukta Kedua: Cinta Ilahi yang dahsyat dan kecintaan kepada Rabb yang kuat, yang terdapat secara sangat mendasar pada jenis manusia — terutama pada lapisannya yang tinggi, pada pribadi-pribadi tak terhingga yang jalan hidup mereka berbeda-beda — dengan sangat nyata mengisyaratkan, bahkan bersaksi, kepada adanya keindahan yang tiada bandingnya.

Ya, cinta semacam itu memandang kepada keindahan seperti itu dan menuntut keindahan itu. Dan kecintaan seperti itu menghendaki kebagusan semacam itu. Bahkan seluruh pujian dan sanjungan yang dipersembahkan oleh segenap yang ada, baik dengan lisan keadaan maupun dengan lisan ucapan, tertuju dan menuju kepada kebagusan azali itu. Bahkan, dalam pandangan sebagian pencinta seperti Syams Tabrizi, segala tarikan jiwa, jazbah, daya tarik, dan hakikat-hakikat yang memikat yang ada di seluruh kainat merupakan isyarat kepada satu hakikat memikat yang azali dan abadi. Dan gerakan serta perputaran penuh jazbah yang membangkitkan benda-benda langit dan segenap yang ada untuk menari dan berputar bagaikan ngengat yang mengelilingi cahaya, laksana para darwis Maulawi, adalah sambutan penuh cinta dan penuh kesadaran akan tugas di hadapan keindahan suci hakikat yang memikat itu, yang menampakkan diri dengan cara yang penuh kewibawaan raja. Nukta Ketiga: Dengan ijmak seluruh ahli tahkik, wujud adalah kebaikan murni dan cahaya; sedangkan tiada wujud adalah kejahatan murni dan gelap gulita. Para pembesar ahli akal dan ahli hati telah sepakat bahwa seluruh kebaikan, seluruh kebajikan, seluruh keindahan, dan seluruh kelezatan — setelah dianalisis — lahir dari wujud, sedangkan seluruh keburukan, kejahatan, musibah, penderitaan, bahkan maksiat, kembali kepada tiada wujud.