MUKADIMAH
Sinar-Sinar · hlm. 631
Sebagaimana Bagian Kedua ditulis dengan perintah maknawi Al-Fatihah di dalam salat dan dengan limpahan karunia ٔاَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُٔ; demikian pula, dengan lisan kalimat ٔوَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِٔ pada tasyahud di dalam salat, dengan peringatan maknawinya, serta dengan cahaya ayat agung di akhir Surah Al-Fath — هُوَ الَّذ۪ٓى اَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدٰى وَد۪ينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدّ۪ينِ كُلِّه۪ وَ كَفٰى بِاللّٰهِ شَه۪يدًا ٭ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِ وَالَّذ۪ينَ مَعَهُٓ اَشِدَّٓاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَٓاءُ بَيْنَهُمْ الخ — yang memperlihatkan lima mukjizat gaib, aku terpaksa menulis bagian ketiganya karena tiga sebab yang sekarang belum diizinkan bagiku untuk menerangkannya. Rincian, penjelasan, dan hujah-hujahnya yang bersanad aku serahkan kepada Zülfikar Mu'cizat-ı Ahmediye dan Hizb-i Nurî berbahasa Arab yang membahas kerasulan Muhammad صلى الله عليه وسلم; dan hanya dengan tiga isyarat yang sangat ringkas lagi pendek, semacam terjemahan dari bagian yang berkenaan dengan kesaksian مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِ di dalam risalah kecil yang ditulis di sini — yang merupakan saripati dari saripati Hizb-i Nurî berbahasa Arab dan yang menjadi wirid tetapku sebagai sebuah tafakur berbahasa Arab bersama kalimat tauhid yang aku ulang-ulang di dalam tasbih — akan dituliskan pada Isyarat Kedua dan Isyarat Ketiga. ISYARAT PERTAMA: Muhammad alaihis-salâtu was-salâm, yang menyambut tampaknya rububiyah Sang Pemilik kainat ini, keilahian-Nya yang kekal selamanya, dan karunia-Nya yang tak terhingga dengan ubudiyah yang menyeluruh serta dengan memperkenalkan-Nya, sungguh sangat diperlukan di dalam kainat ini laksana diperlukannya matahari; sebab beliau adalah guru teragung umat manusia, nabi yang agung, Kebanggaan Alam صلى الله عليه وسلم, dan
yang memperoleh seruan لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ لَمَا خَلَقْتُ الْاَفْلَاكَ; dan sebagaimana hakikat Muhammad صلى الله عليه وسلم pada diri beliau adalah sebab penciptaan alam sekaligus hasil dan buahnya yang paling sempurna, demikian pula — karena hakikat-hakikat berikut terwujud dengan hakikat Muhammad صلى الله عليه وسلم dan kerasulan Ahmad صلى الله عليه وسلم: bahwa kainat ini memiliki kesempurnaan yang hakiki; bahwa ia adalah cermin-cermin kekal bagi Sang Jamîl Dzul-Jalâl Yang Kekal Selamanya, pancaran sifat-sifat-Nya, jejak-jejak bertugas dari perbuatan-perbuatan-Nya yang penuh hikmah, dan surat-surat-Nya yang sarat makna; bahwa ia mengandung sebuah alam yang kekal; dan bahwa ia menghasilkan negeri kebahagiaan serta akhirat yang dirindukan oleh seluruh makhluk berkesadaran — maka betapa kuat dan pastinya kainat ini bersaksi atas kerasulan beliau. Demikian pula, terutama alam Islam, seluruh manusia, dan seluruh makhluk berkesadaran bersaksi atas kerasulan Ahmad صلى الله عليه وسلم dan hakikat Muhammad صلى الله عليه وسلم — yang memberikan kabar gembira yang kuat lagi pasti tentang kehidupan kekal yang mereka minta pada setiap masa dengan cinta dan kerinduan yang tiada henti, dengan segenap kekuatan hakikat dirinya yang menghimpun, dengan seluruh lisan kesiapan bawaannya, serta dengan seluruh lisan doa, ibadah, dan permohonannya, agar mereka selamat dari tidak ada sama sekali, dari kehampaan, dari hukuman mati abadi, dan dari lenyap secara mutlak yang lebih pahit lagi lebih mengerikan daripada neraka — lalu mereka membubuhkan tanda tangan bahwa beliau adalah sebab kebanggaan umat manusia dan makhluk yang paling mulia; sebagaimana pula, masuknya satu misal dari seluruh kebaikan dan amal baik yang setiap hari dikerjakan oleh tiga ratus lima puluh juta ahli iman pada setiap masa ke dalam buku catatan kebaikan Muhammad alaihis-salâtu was-salâm — sesuai dengan rahasia اَلسَّبَبُ كَالْفَاعِلِ — serta diperolehnya sebuah maqam oleh satu pribadi Muhammad صلى الله عليه وسلم itu, berupa ubudiyah yang menyeluruh dan limpahan karunia sebanyak ratusan juta bahkan miliaran hamba yang beribadah lagi berbuat baik, bersaksi dengan sangat kuat atas kerasulan beliau dan membubuhkan tanda tangan. ISYARAT KEDUA: Yang mengisyaratkan kepada lebih dari dua puluh kesaksian yang setiap waktu aku pandang dengan tafakur di dalam wiridku: مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِ صَادِقُ الْوَعْدِ الْاَم۪ينِ بِشَهَادَةِ ظُهُورِه۪ دَفْعَةً مَعَ اُمِّيَّتِه۪ بِاَكْمَلِ د۪ينٍ وَ اِسْلَامِيَّةٍ وَ شَر۪يعَةٍ وَ بِاَقْوٰى ا۪يمَانٍ وَ اِعْتِقَادٍ وَ عِبَادَةٍ وَ بِاَعْلٰى دَعْوَةٍ وَ مُنَاجَاةٍ وَ دَعَوَاتٍ وَ بِاَعَمِّ تَبْل۪يغٍ وَ اَتَمِّ مَتَانَةٍ خَارِقَاتٍ مُثْمِرَاتٍ لَا مِثْلَ لَهَا
Semacam terjemahan dan makna ringkasnya: Yakni, YANG PERTAMA dari yang bersaksi atas kerasulan Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah sebuah hujah kerasulan yang lahir dari sebelas keadaan beliau.
Benar, meskipun beliau tidak pernah belajar membaca dan menulis serta seorang yang ummi, kemunculan beliau secara tiba-tiba, tanpa pengalaman, dan sekaligus dengan sebuah agama yang membuat para cerdik pandai dan para filsuf selama empat belas abad tercengang serta meraih kedudukan pertama di antara agama-agama samawi, adalah sebuah keadaan yang tidak menerima adanya tandingan...
Islam yang lahir dari sabda, perbuatan, dan keadaan beliau — yang pada setiap masa memberikan pelajaran secara mendidik kepada ruh, jiwa, dan akal tiga ratus lima puluh juta manusia serta menggiring mereka kepada kemajuan maknawi — adalah sebuah keadaan yang tiada tandingannya.
Lagi pula, beliau tampil dengan sebuah syariat yang sedemikian rupa sehingga, dengan hukum-hukumnya yang adil, ia mengatur seperlima umat manusia selama empat belas abad di dalam kemajuan lahir dan batin; dan itu adalah sebuah keadaan yang tiada bandingnya...
Beliau صلى الله عليه وسلم tampil dengan iman dan keyakinan yang sedemikian rupa sehingga seluruh ahli hakikat, di samping senantiasa menerima limpahan karunia dari tingkatan iman beliau, juga sepakat membenarkan bahwa iman itu berada pada derajat yang paling tinggi lagi paling kuat; dan penentangan musuh-musuh beliau yang tak terhingga banyaknya pada masa itu sama sekali tidak menimbulkan kegelisahan, waswas, atau keraguan sebesar zarah pun pada diri beliau. Semua itu memperlihatkan bahwa dalam kekuatan iman pun beliau tidak memiliki tandingan, dan iman beliau yang menyeluruh lagi tinggi itu tiada bandingnya.
Lagi pula, beliau memperlihatkan ubudiyah dan ibadah yang sedemikian rupa sehingga beliau menyatukan awal dan akhir, tanpa meniru siapa pun, melihat rahasia-rahasia ibadah yang paling halus lalu menjaganya, dan menunaikan ubudiyah dengan sempurna bahkan pada masa-masa yang paling penuh gejolak; dan itu adalah sebuah keadaan yang tiada tandingannya...
Beliau memanjatkan doa, munajat, dan permohonan kepada Khâliq-nya sedemikian rupa sehingga sampai zaman ini, sekalipun dengan berpadunya pemikiran, tingkatan itu belum juga tercapai. Misalnya, di dalam munajat Jausyan al-Kabir beliau menjadikan seribu satu asma Ilahi sebagai perantara syafaat, lalu menyifati dan memperkenalkan Khâliq-nya dengan cara yang tiada tandingannya.
Dan tidak ada seorang pun yang dapat menyusul beliau dalam makrifatullah; inilah sebuah keadaan yang tiada bandingnya.
Lagi pula, beliau menyeru manusia kepada agama dengan keteguhan yang sedemikian rupa dan menyampaikan kerasulannya dengan keberanian yang sedemikian rupa sehingga — padahal kaumnya, pamannya, negara-negara besar dunia, dan para pengikut agama-agama lama menjadi penentang dan musuhnya — beliau menantang mereka semua tanpa takut dan tanpa gentar sebesar zarah pun, bahkan berhasil mengalahkan mereka; dan itu adalah sebuah keadaan yang tiada tandingannya.
Maka himpunan delapan keadaan yang menakjubkan lagi tiada tandingannya ini adalah kesaksian yang sangat kuat atas kejujuran dan kenabian beliau.
Dan keadaan-keadaan ini memperlihatkan adanya keyakinan yang pasti terhadap kesungguhan beliau صلى الله عليه وسلم yang tiada terkira, ketenteraman hatinya, kejujurannya yang sempurna, dan kebenarannya.
Alam Islam setiap hari, pada setiap tasyahud, dengan jutaan lisan mengucapkan اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِىُّ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ. Dan sebagai tanda ketundukannya kepada tugas beliau, pembenarannya terhadap kabar gembira kebahagiaan abadi yang beliau bawa, serta terhadap dibukanya jalan yang kukuh oleh beliau menuju kehidupan kekal yang dicari umat manusia dengan cinta yang mendalam dan dengan kerinduan yang sangat kuat, yang bersifat fitri lagi bawaan, alam Islam — dengan penuh rasa berutang budi lagi penuh syukur — melakukan semacam ziarah dan perjumpaan maknawi dengan اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِىُّ, serta menyampaikan tahniah kepada beliau atas nama tiga ratus lima puluh juta, bahkan miliaran orang.
Dari dua puluh kesaksian yang menyeluruh, dan yang mencakup banyak kesaksian, KESAKSIAN KEDUA: وَ بِشَهَادَةِ جَم۪يعِ حَقَائِقِ الْا۪يمَانِ عَلٰى تَصْد۪يقِه۪
Yakni, hakikat-hakikat enam rukun iman, terwujudnya, serta kebenarannya bersaksi secara pasti atas kerasulan dan kebenaran Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Sebab pribadi maknawi dari kehidupan kerasulan beliau, dasar seluruh dakwaan beliau, dan hakikat kenabian beliau adalah enam rukun itu. Kalau begitu, seluruh dalil yang menunjukkan terwujudnya rukun-rukun itu juga menunjukkan bahwa kerasulan Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah haq dan bahwa beliau adalah orang yang benar.
Lagi pula, sebagaimana Risalah Buah dan lampiran-lampiran Kelimat Kesepuluh telah menerangkan penunjukan rukun-rukun yang lain atas terwujudnya akhirat, demikian pula setiap rukun beserta hujah-hujahnya adalah sebuah hujah atas kerasulan beliau.
Yang mencakup ribuan kesaksian, KESAKSIAN KETIGA YANG MENYELURUH: وَ بِشَهَادَةِ ذَاتِه۪ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ بِاٰلَافِ مُعْجِزَاتِه۪ وَ كَمَالَاتِه۪ وَ عُلُوِّ اَخْلَاقِه۪
Yakni, beliau صلى الله عليه وسلم adalah dalil bagi dirinya sendiri laksana matahari. Dengan ribuan mukjizat, kesempurnaan, serta akhlaknya yang tinggi lagi indah, beliau bersaksi dengan sangat kuat atas kerasulan dan kejujurannya.
Benar, sebagaimana telah dibuktikan dengan lebih dari tiga ratus riwayat sahih di dalam risalah menakjubkan Mu'cizat-ı Ahmediye, beliau صلى الله عليه وسلم
dengan kejelasan ayat وَ انْشَقَّ الْقَمَرُ dan وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ رَمٰى, terbelahnya bulan menjadi dua bagian dengan sebuah jari dari telapak tangan beliau; dan dengan riwayat sahih serta tawatur, mengalirnya lima mata air dari lima jari tangan yang sama itu, lalu seluruh pasukan beliau yang kehausan meminum air itu dan menyaksikannya, dan keajaiban menakjubkan ini terjadi pula dua kali di tempat yang lain; dan dengan telapak tangan yang sama itu beliau melemparkan segenggam tanah kepada pasukan musuh yang sedang menyerbu, lalu masuklah segenggam tanah ke mata masing-masing mereka sehingga mereka lari ketika sedang menyerbu; dan batu-batu kecil di telapak tangan yang sama itu bertasbih seperti manusia dan mengucapkan Subhanallah — maka munculnya ratusan mukjizat di tangan beliau, bahkan menurut ahli tahkik sampai seribu mukjizat, yang dengan riwayat sahih dan sebagiannya dengan tawatur benar-benar terjadi secara pasti di dalam sejarah; dan adanya perangai-perangai yang baik serta akhlak mulia pada diri beliau di dalam derajat yang paling tinggi menurut kesepakatan kawan maupun lawan {(Catatan kaki): Bahkan sang pahlawan keberanian, Sayidina Ali radiyallahu anhu, berkata: “Ketika kami merasa takut di dalam peperangan, kami bersembunyi dan berlindung di belakang Nabi صلى الله عليه وسلم.” Kitab-kitab sejarah meriwayatkan bahwa pada masa itu musuh-musuh beliau pun membenarkan keunggulan beliau di dalam setiap perangai, sebagaimana di dalam keberanian.}; dan pembenaran dengan haqqul yakin dari seluruh ahli tahkik yang berjalan mengikuti beliau lalu sampai kepada kesempurnaan dan mencapai hakikat dengan ainul yakin, yang secara sepakat membenarkan bahwa kesempurnaan-kesempurnaan Muhammad صلى الله عليه وسلم berada pada derajat yang paling tinggi; dan limpahan-limpahan karunia alam Islam yang datang dari agama beliau; serta hakikat-hakikat Islam yang agung — semuanya menunjukkan kepada kesempurnaan beliau yang menakjubkan. Sudah pasti beliau صلى الله عليه وسلم dengan diri beliau sendiri bersaksi atas kerasulannya sendiri dengan kesaksian yang sangat cemerlang, menyeluruh, lagi luas; demikianlah maknanya.
KESAKSIAN KEEMPAT, yang mengandung banyak sekali kesaksian yang kuat: وَ بِشَهَادَةِ الْقُرْاٰنِ بِمَا لَا يُحَدُّ مِنْ حَقَائِقِه۪ وَ بَرَاه۪ينِه۪
Yakni Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân, dengan hakikat-hakikat dan hujah-hujahnya yang tak terhingga, bersaksi atas kerasulan dan kejujuran beliau صلى الله عليه وسلم.
Benar, Al-Qur'an — yang di dalam kumpulan Zülfikar telah dibuktikan sebagai mukjizat dari empat puluh segi; yang menerangi empat belas abad; yang mengatur seperlima jenis manusia dengan hukum-hukumnya yang tidak pernah berubah; yang sejak masa itu sampai sekarang menantang seluruh penentang sehingga tidak seorang pun berani mendatangkan yang semisal dengannya, bahkan yang semisal dengan satu surahnya saja; yang, sebagaimana dibuktikan di dalam Ayatul Kubra, enam seginya bercahaya sehingga keraguan tidak dapat masuk ke dalamnya; yang enam maqam teragung membubuhkan tanda tangan atas kebenarannya; yang bersandar kepada enam hakikat yang tidak tergoyahkan; dan yang pada setiap zaman dengan kerinduan dan penghormatan melalui ratusan juta lisan
dibaca; yang setiap menit dituliskan dengan kesucian di dalam hati jutaan hafiz; yang seluruh kesaksian dan iman alam Islam menetes dari kesaksiannya; yang seluruh ilmu keimanan dan keislaman mengalir dari sumbernya; dan yang, sebagaimana ia membenarkan kitab-kitab samawi terdahulu, ia pun menjadi tempat tampaknya pembenaran maknawi dari seluruh kitab dan suhuf samawi — Al-Qur'an Al-Azhîmusy-Sya'n itu, dengan seluruh hakikatnya dan dengan seluruh hujah yang membuktikan kebenarannya, bersaksi atas kejujuran dan kerasulan Muhammad alaihis-salâtu was-salâm; demikianlah maknanya. KESAKSIAN-KESAKSIAN MENYELURUH KELIMA, KEENAM, KETUJUH, DAN KEDELAPAN: وَ بِشَهَادَةِ الْجَوْشَنِ بِقُدْسِيَّةِ اِشَارَاتِه۪ وَ رَسَائِلِ النُّورِ بِقُوَّةِ دَلَائِلِه۪ وَ الْمَاض۪ى بِتَوَاتُرِ اِرْهَاصَاتِه۪ وَ الْاِسْتِقْبَالِ بِتَصْد۪يقِ اٰلَافِ حَادِثَاتِه۪
Yakni: sebagaimana hakikat-hakikat yang ada di dalam munajat “Jausyan al-Kabir” — yang memandang kepada seribu satu asma Ilahi secara terang-terangan maupun secara isyarat; yang di dalam satu segi merupakan munajat menakjubkan yang keluar dari Al-Qur'an; yang berada di atas munajat seluruh arif yang maju di dalam makrifatullah; dan yang tentangnya Jibril membawa wahyu di dalam sebuah peperangan: “Lepaskanlah baju besi itu, dan sebagai gantinya bacalah Jausyan ini!” — serta sifat-sifat Rabb-nya yang disebutkan dengan setepat-tepatnya, bersaksi atas kerasulan dan kebenaran Muhammad صلى الله عليه وسلم; demikian pula Risale-i Nur — yang menetes dari Al-Qur'an, dan di dalam satu segi menerima limpahan karunia dari Jausyan lalu lahir darinya — dengan seratus tiga puluh bagiannya, sebagai satu hujah tunggal bagi kerasulan Muhammad صلى الله عليه وسلم, dengan pembuktiannya secara akal dan logika atas seluruh hakikat kerasulan beliau, bahkan dengan pengajarannya atas persoalan-persoalan yang di dalam pandangan filsafat sangat jauh dari akal dengan cara yang sangat mudah lagi masuk akal seolah-olah terlihat di depan mata, bersaksi secara menyeluruh atas kejujuran dan kerasulan Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Masa lalu pun merupakan saksi menyeluruh bagi kerasulan beliau; sebab keajaiban-keajaiban yang disebut irhasat — yaitu yang muncul sebelum kenabian dan dihitung sebagai mukjizat bagi nabi yang akan datang — serta banyak sekali peristiwa yang diriwayatkan di dalam kitab-kitab sejarah dan kitab-kitab sirah dengan cara tawatur yang pasti, bersaksi atas kerasulan beliau dengan cara yang sangat kukuh; dan jenisnya banyak sekali. Sebagiannya akan diterangkan di dalam kesaksian-kesaksian yang akan datang; sebagiannya lagi telah diriwayatkan secara sahih di dalam Zülfikar dan di dalam kitab-kitab sejarah.
Misalnya, pada waktu yang dekat dengan kelahiran Nabi صلى الله عليه وسلم, turunnya hujan batu ke atas kepala pasukan Abrahah yang datang untuk menghancurkan Ka'bah melalui tangan burung-burung ababil; dan pada malam kelahiran beliau, berhala-berhala di dalam Ka'bah
jatuh terjungkir; dan runtuhnya istana Kisra Persia; dan padamnya pada malam itu api kaum Majusi penyembah api yang telah menyala terus-menerus selama seribu tahun; dan, dengan pemberitaan yang pasti dari Rahib Buhaira dan Halimah as-Sa'diyah, awan yang menaungi kepala beliau yang mulia — banyak sekali peristiwa seperti ini telah mengabarkan kenabian beliau sebelum kenabian itu tiba.
Masa depan pun demikian; yakni peristiwa-peristiwa yang beliau kabarkan setelah wafatnya sangat banyak dan jenisnya pun banyak. Salah satunya ialah kabar-kabar gaib beliau tentang Ahlul Bait, para sahabat, dan futuhat Islam; yaitu terjadinya delapan puluh peristiwa persis seperti yang beliau kabarkan, sebagaimana diriwayatkan dengan riwayat sahih di dalam bagian Mu'cizat-ı Ahmediye pada Zülfikar. Misalnya, terbunuhnya Sayidina Utsman radiyallahu anhu sebagai syahid ketika sedang membaca mushaf, dan terbunuhnya Sayidina Husain radiyallahu anhu sebagai syahid di Taff, yakni di Karbala; penaklukan Syam, Iran, dan Istanbul; munculnya Daulah Abbasiyah; serta dikalahkan dan dihancurkannya daulah itu oleh Jengis dan Hulagu — delapan puluh mukjizat kabar gaib semacam itu telah dituliskan secara terperinci dengan riwayat sahih dan dengan bersandar kepada kitab-kitab sejarah dan sirah. Maka dengan jenis-jenis kabar gaib lainnya, dan dengan banyak sekali peristiwa masa depan yang menunjukkan kepada kebenaran Muhammad صلى الله عليه وسلم, masa depan pun bersaksi secara kuat lagi menyeluruh atas kerasulan Muhammad صلى الله عليه وسلم dan atas kejujuran beliau; demikianlah maknanya. Yang mengisyaratkan kepada KESAKSIAN KESEMBILAN, KESEPULUH, KESEBELAS, DAN KEDUA BELAS: وَ بِشَهَادَةِ الْاٰلِ بِقُوَّةِ يَق۪ينِيَّاتِهِمْ ف۪ى تَصْد۪يقِه۪ بِدَرَجَةِ حَقِّ الْيَق۪ينِ وَ الْاَصْحَابِ بِكَمَالِ ا۪يمَانِهِمْ ف۪ى تَصْد۪يقِه۪ بِدَرَجَةِ عَيْنِ الْيَق۪ينِ وَ الْاَصْفِيَاءِ بِقُوَّةِ تَحْق۪يقَاتِهِمْ ف۪ى تَصْد۪يقِه۪ بِدَرَجَةِ عِلْمِ الْيَق۪ينِ وَ الْاَقْطَابِ بِتَطَابُقِهِمْ عَلٰى رِسَالَتِه۪ بِالْكَشْفِ وَ الْمُشَاهَدَاتِ بِالْيَق۪ينِ