Yakni, di antara kesaksian-kesaksian menyeluruh atas kejujuran dan kebenaran Muhammad صلى الله عليه وسلم
Sinar-Sinar · hlm. 639
YANG KESEMBILAN: Para wali besar yang berada di dalam Âl Muhammad صلى الله عليه وسلم — yang menjadi tempat tampaknya rahasia عُلَمَاءُ اُمَّت۪ى كَاَنْبِيَاءِ بَن۪ى اِسْرَائ۪يلَ dan yang di dalam salawat disebut sebagai imbangan bagi Âl Ibrahim alaihissalam — yaitu Ali radiyallahu anhu, Hasan radiyallahu anhu, Husain radiyallahu anhu, dua belas imam Ahlul Bait, serta Al-Gaus Al-A'zham, Ahmad ar-Rifa'i, Ahmad al-Badawi, Ibrahim ad-Dasuqi, dan Abul Hasan
asy-Syadzili: para qutub dan para imam semacam itu, dengan sepakat, dengan itikad haqqul yakin, dengan penglihatan batin dan dengan melihat langsung, dengan bimbingan-bimbingan menakjubkan yang mereka perlihatkan kepada umat, dan dengan karamah-karamah, membubuhkan tanda tangan mereka melalui iman dan kesaksian mereka atas kerasulan, kebenaran, dan kejujuran Muhammad صلى الله عليه وسلم.
YANG KESEPULUH: Para sahabat — golongan yang paling mulia dan paling tinggi setelah para nabi; yang meskipun ummi dan badui, di dalam waktu yang singkat, dengan cahaya Muhammad صلى الله عليه وسلم, memerintah dengan adil dari timur sampai barat, mengalahkan negara-negara penakluk dunia, dan menjadi ustaz, guru, diplomat, serta hakim yang adil bagi bangsa-bangsa yang maju, berilmu, beradab, lagi berpolitik, sehingga menjadikan abad itu laksana masa kebahagiaan — iman mereka kepada kejujuran dan kerasulan Muhammad صلى الله عليه وسلم pada derajat ainul yakin, yaitu setelah meneliti dan menyelidiki setiap keadaan beliau, dengan kekuatan banyak mukjizat yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri, mereka meninggalkan sama sekali permusuhan lama mereka, jalan yang ditempuh nenek moyang mereka, dan — seperti Khalid bin Walid dan Ikrimah bin Abu Jahal — sikap memihak ayah-ayah mereka beserta kaum dan kabilah mereka, lalu masuk ke dalam Islam dengan segenap ruh dan jiwa mereka secara sangat penuh pengorbanan; itulah kesaksian menyeluruh yang tidak tergoyahkan.
YANG KESEBELAS: Iman ribuan ahli tahkik — para mujtahid, para imam, dan para ulama besar yang disebut asfiya dan Siddiqin, serta filsuf-filsuf jenius seperti Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd — kepada kerasulan dan kebenaran Muhammad صلى الله عليه وسلم pada derajat ilmul yakin, secara akal dan logika, masing-masing di dalam jalan yang berbeda, dengan bersandar kepada ribuan hujah dan burhan pasti yang tidak menyisakan keraguan, adalah kesaksian yang sedemikian menyeluruh sehingga siapa pun yang kecerdasannya tidak sebanding dengan kecerdasan mereka semua tidak akan sanggup menghadapinya.
Maka salah satu dari saksi yang tak terhingga itu pada zaman ini ialah Risale-i Nur; karena orang-orang yang ingkar tidak menemukan satu pun cara untuk menghadapinya, mereka menipu aparat kepolisian dan lembaga peradilan lalu berusaha membungkamnya melalui tangan pengadilan.
YANG KEDUA BELAS: Kesaksian para ahli tahkik dan ahli hakikat yang paling mendalam — yang disebut para qutub; yang masing-masing memasukkan sebagian penting dari umat ke dalam lingkaran pelajarannya lalu memajukan mereka secara maknawi dengan bimbingan dan karamah yang menakjubkan; dan yang, sebagai ganti hujah, bersandar kepada apa yang mereka saksikan langsung dan apa yang tersingkap bagi mereka — atas kenabian beliau, yaitu setelah di dalam kemajuan ruhani mereka melihat secara kasyaf dan secara langsung kerasulan Muhammad صلى الله عليه وسلم, kejujuran beliau, dan keberadaan beliau pada tingkatan kebenaran yang paling tinggi, lalu secara sepakat lagi bersesuaian bersaksi atas kenabian beliau — adalah tanda tangan yang sedemikian rupa sehingga siapa pun yang tidak meraih tingkatan kesempurnaan setinggi tingkatan mereka semua tidak akan sanggup merusak tanda tangan itu.
KESAKSIAN KETIGA BELAS: Terdiri atas empat hujah yang menyeluruh, sangat luas, lagi pasti: وَ بِشَهَادَةِ الْاَزْمِنَةِ الْمَاضِيَّةِ بِتَوَاتُرِ بَشَارَاتِ الْكَوَاهِنِ وَ الْهَوَاتِفِ وَ الْعُرَفَاءِ فِى الْاَدْوَارِ السَّالِف۪ينَ وَ بِمُشَاهَدَةِ بَشَارَاتِ الرُّسُلِ وَ الْاَنْبِيَاءِ وَ بِشَهَادَتِهِمْ وَ بَشَارَتِهِمْ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ بِرِسَالَةِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ فِى الْكُتُبِ الْمُقَدَّسَةِ
Makna ringkas dari fikrah ini akan diterangkan di sini, sedangkan penjelasan dan sanad-sanadnya terdapat dengan sempurna di akhir bagian Mu'cizat-ı Ahmediye di dalam Zülfikar.
Yakni: pada masa-masa yang telah lalu, para tokoh terkenal lagi termasyhur dari jenis manusia — terutama para nabi, lalu para arif, para kahin, dan para hatif — dengan sepakat telah mengabarkan kerasulan Muhammad صلى الله عليه وسلم dan kedatangan beliau secara sangat terang lagi berulang-ulang, dari jenis irhasat; dan karena hal itu tercatat serta diterima di dalam kitab-kitab sejarah, sirah, dan hadis dengan riwayat sahih, sebagiannya dengan tawatur, dan karena bagian yang paling kuat lagi pasti dari ribuan kabar itu telah diterangkan secara terperinci di dalam Risalah Mu'cizat-ı Ahmediye, kami menyerahkannya kepada risalah itu, lalu dengan isyarat yang sangat singkat kami katakan:
Adapun para nabi: dari ratusan ayat Taurat, Injil, dan Zabur di dalam kitab-kitab samawi yang suci yang berbicara tentang kenabian Muhammad صلى الله عليه وسلم, dua puluh ayat dari bagian yang hampir terang-terangan telah dituliskan di dalam Surat Kesembilan Belas. Meskipun banyak diubah dan diselewengkan oleh orang-orang Kristen dan Yahudi, seratus ayat yang tetap mengabarkan kenabian Ahmad صلى الله عليه وسلم telah dituliskan oleh Husain al-Jisri di dalam kitabnya.
Adapun para kahin — terutama Syiqq dan Satih yang masyhur — yaitu mereka yang mengabarkan perkara gaib melalui perantaraan makhluk ruhani dan jin, dan yang sekarang disebut medium: dengan riwayat sahih yang tawatur mereka telah mengabarkan secara terang-terangan tentang kedatangan Nabi صلى الله عليه وسلم dan tentang lenyapnya Kerajaan Persia di tangan beliau, serta berulang-ulang mengatakan dengan cara yang tidak menyisakan keraguan bahwa dalam waktu dekat seorang nabi akan muncul di Hijaz…
Adapun dari golongan arif billah: Ka'b bin Lu'ay, salah seorang datuk Nabi صلى الله عليه وسلم, dan Saif bin Dzi Yazan, salah seorang raja Yaman dan Habasyah, dan
dan Tubba' — banyak arif yang menjadi para wali pada masa itu — telah mengabarkan kerasulan Muhammad صلى الله عليه وسلم dengan cara yang sangat terang lalu mengumumkannya melalui syair-syair. Bagian yang penting lagi pasti dari kabar-kabar itu telah dituliskan di dalam Surat Kesembilan Belas. Bahkan salah seorang dari raja-raja itu berkata: "Aku lebih memilih menjadi pelayan Muhammad صلى الله عليه وسلم daripada kerajaan ini." Seorang lagi berkata: "Ah, seandainya aku sempat bertemu dengan beliau, tentu aku menjadi putra pamannya." Yakni: aku akan menjadi pelayan dan wazir beliau yang rela berkorban seperti Sayidina Ali. Bagaimanapun juga — sementara kitab-kitab sejarah dan sirah menyiarkan seluruh kabar ini selengkapnya — para arif ini membubuhkan tanda tangan atas kejujuran beliau dengan kesaksian yang kuat lagi menyeluruh terhadap kerasulan Ahmad صلى الله عليه وسلم.
Dan sebagaimana makhluk-makhluk ruhani yang disebut hatif — yang seperti para arif dan para kahin itu mengabarkan kerasulan Muhammad صلى الله عليه وسلم secara gaib, yang ucapannya terdengar namun sosoknya tidak terlihat — telah mengabarkan kenabian Muhammad صلى الله عليه وسلم dengan cara yang sangat terang; demikian pula banyak pembawa kabar, bahkan kurban-kurban yang disembelih untuk berhala, berhala-berhala itu sendiri, dan batu-batu nisan, dengan mengabarkan kenabian beliau telah membubuhkan tanda tangan atas kerasulan dan kebenaran beliau serta bersaksi dengan lisan sejarah. KESAKSIAN KEEMPAT BELAS: Inilah fikrah Arab yang mengisyaratkan kesaksian kainat yang kuat: وَ بِشَهَادَةِ الْكَائِنَاتِ بِغَايَاتِهَا وَ بِالْمَقَاصِدِ الْاِلٰهِيَّةِ ف۪يهَا عَلَى الرِّسَالَةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ الْجَامِعَةِ بِسَبَبِ تَوَقُّفِ حُصُولِ غَايَاتِ الْكَائِنَاتِ وَ الْمَقَاصِدِ الْاِلٰهِيَّةِ مِنْهَا وَ تَقَرُّرِ قِيْمَتِهَا وَ وَظَائِفِهَا وَ تَبَارُزِ حُسْنِهَا وَ كَمَالِهَا وَ تَحَقُّقِ حِكَمِ حَقَائِقِهَا عَلَى الرِّسَالَةِ الْاِنْسَانِيَّةِ لَاسِيَّمَا عَلَى الرِّسَالَةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ اِذْ هِىَ الْمُظْهِرَةُ وَ الْمَدَارُ الْاَتَمُّ لَهَا وَ لَوْلَاهَا لَصَارَتْ هٰذِهِ الْكَائِنَاتُ الْمُكَمَّلَةُ وَ الْكِتَابُ الْكَب۪يرُ ذُو الْمَعَانِى السَّرْمَدِيَّةِ هَبَاءً مَنْثُورًا مُتَطَايِرَةَ الْمَعَان۪ى مُتَسَاقِطَةَ الْكَمَالَاتِ وَ هُوَ مُحَالٌ مِنْ وُجُوهٍ وَ جِهَاتٍ
Ayatul Kubra, mengenai makna fikrah Arab ini, telah mengatakan: Sebagaimana kainat ini menunjukkan adanya Sang Pembuat, Sang Penulis, dan Sang Pelukis — Zat yang mengadakan, mengatur, dan menyusun kainat, serta menguasainya dengan penggambaran, penentuan, dan pengaturan laksana sebuah istana, sebuah kitab; laksana sebuah pameran, sebuah tempat pertunjukan; demikian pula
karena kainat menuntut, mengharuskan, dan pasti menunjukkan adanya seorang penyeru agung, seorang penyingkap yang benar, seorang guru yang mendalam penelitiannya, dan seorang pengajar yang jujur — yang mengetahui dan memberitahukan maksud-maksud Ilahi dalam penciptaan kainat, yang mengajarkan hikmah-hikmah Rabbani dalam segala perubahannya, yang memberi pelajaran tentang hasil-hasil dari gerak-geriknya yang penuh tugas, yang mengumumkan nilai yang terkandung dalam hakikat dirinya serta kesempurnaan segala yang ada di dalamnya, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan dahsyat: "Dari mana mereka datang? Dan ke mana mereka akan pergi? Dan untuk apa mereka datang ke sini? Dan mengapa mereka tidak lama tinggal, lalu pergi?", dan yang menafsirkan makna-makna kitab besar itu serta hikmah-hikmah ayat-ayat penciptaannya — maka sudah pasti kainat bersaksi dengan kuat lagi menyeluruh atas kebenaran Muhammad صلى الله عليه وسلم, yang menunaikan tugas-tugas ini lebih daripada siapa pun, dan atas keberadaan beliau sebagai petugas Khâliq kainat ini yang paling tinggi lagi paling jujur, lalu ia mengucapkan اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِٔ.
Ya, dengan cahaya yang dibawa Muhammad صلى الله عليه وسلم, hakikat diri kainat, nilainya, kesempurnaannya, serta tugas, hasil, jabatan, dan nilai segala yang ada di dalamnya menjadi diketahui dan menjadi nyata. Dan kainat dari ujung ke ujung menjadi surat-surat Ilahi yang sangat sarat makna, sebuah Al-Qur'an Rabbani yang berwujud nyata, dan sebuah balai pameran yang megah bagi karya-karya Allah Yang Mahasuci. Jika tidak demikian, ia jatuh kepada hakikat diri sebuah reruntuhan yang kacau lagi mencekam dan sebuah rumah ratapan yang dahsyat, yang bergulir di dalam gelap gulita adem dan hampa, sirna dan fana. Berdasarkan hakikat ini, kesempurnaan kainat, perubahan-perubahannya yang penuh hikmah, dan makna-maknanya yang kekal selamanya mengucapkan dengan cara yang kuat: نَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِٔ. KESAKSIAN KELIMA BELAS: Inilah fikrah Arab berikut, yang mengandung amat banyak kesaksian suci, dan yang mengisyaratkan kesaksian suci atas kerasulan Muhammad صلى الله عليه وسلم dari sisi pelaksanaan rububiyah dan perbuatan-perbuatan rahmaniyah Zat Wâjibul Wujûd — Zat yang menguasai kainat ini, yang seluruh penguasaan-Nya, seperti segala perubahan, gerak, diam, hidup, dan mati, dari zarah sampai planet, berlangsung dengan perintah-Nya, kehendak-Nya, dan kekuatan-Nya: وَ بِشَهَادَةِ صَاحِبِ الْكَائِنَاتِ وَ خَلَّاقِهَا وَ مُتَصَرِّفِهَا عَلَى الرِّسَالَةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ بِاَفْعَالِ رَحْمَانِيَّتِه۪ وَ بِاِجْرَااٰتِ رُبُوبِيَّتِه۪ كَفِعْلِ الرَّحْمَانِيَّةِ بِاِنْزَالِ الْقُرْاٰنِ الْمُعْجِزِ الْبَيَانِ عَلَيْهِ وَ بِاِظْهَارِ اَنْوَاعِ الْمُعْجِزَاتِ عَلٰى يَدَيْهِ وَ بِتَوْف۪يقِه۪ وَ حِمَايَتِه۪
ف۪ى كُلِّ حَالَاتِه۪ وَ بِاِدَامَةِ د۪ينِه۪ بِكُلِّ حَقَائِقِه۪ وَ بِاِعْلَاءِ مَقَامِ حُرْمَتِه۪ وَ شَرَفِه۪ وَ اِكْرَامِه۪ عَلٰى جَم۪يعِ الْمَخْلُوقَاتِ بِالْمُشَاهَدَةِ وَ الْعَيَانِ وَ كَفِعْلِ رُبُوبِيَّتِه۪ بِجَعْلِ رِسَالَتِه۪ شَمْسًا مَعْنَوِيَّةً لِكَائِنَاتِه۪ وَ بِجَعْلِ د۪ينِه۪ فِهْرِسْتَةَ كَمَالَاتِ عِبَادِه۪ وَ بِجَعْلِ حَق۪يقَتِه۪ مِرْاٰةً جَامِعَةً لِتَجَلِّيَاتِ اُلُوهِيَّتِه۪ وَ بِتَوْظ۪يفِه۪ بِوَظَائِفَ ضَرُورِيَّةٍ لَازِمَةٍ لِوُجُودِ الْمَخْلُوقَاتِ ف۪ى هٰذِهِ الْكَائِنَاتِ كَلُزُومِ الرَّحْمَةِ وَ الْحِكْمَةِ وَ الْعَدَالَةِ وَ كَضَرُورَةِ لُزُومِ الْغِذَاءِ وَ الْمَاءِ وَ الْهَوَاءِ وَ الضِّيَاءِ
Rincian kesaksian yang sangat pasti, sangat luas, lagi suci ini kami serahkan kepada Risale-i Nur, dan dengan isyarat yang sangat singkat kami akan melihat makna ringkasnya:
Ya, di dalam kainat ini, di hadapan mata kita, di tengah penguasaan yang teratur ini — karena melindungi orang-orang baik pada setiap waktu dan menampar orang-orang jahat serta para pendusta, dengan keadilan dan hikmah, dengan rahmat, inayah, dan perlindungan, merupakan kebiasaan rububiyah-Nya — maka sesuai tuntutan perbuatan-perbuatan rahmaniyah-Nya: Dia menyerahkan Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân ke tangan Muhammad صلى الله عليه وسلم; Dia memberikan kepada beliau berbagai macam mukjizat yang jumlahnya mendekati seribu; Dia melindungi beliau dengan penuh kasih sayang dalam segala keadaan dan dalam kedudukan yang paling berbahaya, bahkan menjaga beliau dengan seekor merpati dan seekor laba-laba; Dia menjadikan beliau berhasil sepenuhnya dalam tugas-tugas besarnya; Dia melanggengkan agama beliau beserta seluruh hakikatnya; Dia menempatkan Islam yang beliau bawa di atas kepala bumi dan jenis manusia; dan dengan memberikan kepada beliau kedudukan mulia di atas seluruh makhluk, martabat yang kekal sebagai sosok yang diterima, di atas para tokoh masyhur dari jenis manusia, serta sebuah pribadi yang — menurut kesepakatan kawan dan lawan — menyandang perangai-perangai yang paling tinggi, Dia menjadikan seperlima umat manusia sebagai umat beliau. Sebagaimana semua ini bersaksi dengan cara yang sangat pasti atas kejujuran dan kerasulan beliau, demikian pula dari sisi perbuatan-perbuatan rububiyah kami melihat bahwa: Penguasa dan Pengatur alam ini menjadikan kerasulan Muhammad صلى الله عليه وسلم sebagai matahari maknawi bagi kainat ini — sebagaimana dibuktikan di dalam Risalah-Risalah Nur — lalu dengannya Dia melenyapkan segala gelap dan memperlihatkan hakikat-hakikat yang bercahaya, serta menggembirakan seluruh makhluk berkesadaran, bahkan kainat, dengan kabar gembira kehidupan yang kekal selamanya; demikian pula Dia menjadikan agama beliau sebagai daftar kesempurnaan bagi seluruh ahli ibadah yang diterima dan sebagai program yang kukuh dalam gerak ubudiyah; dan demikian pula Dia menjadikan hakikat beliau, yaitu pribadi maknawi Muhammad صلى الله عليه وسلم, dengan petunjuk Al-Qur'an dan
petunjuk Jausyan, sebagai cermin yang menghimpun bagi segala pancaran keilahian-Nya; dan dengan petunjuk hakikat-hakikat yang telah kami isyaratkan sebelumnya, dengan petunjuk bahwa selama empat belas abad beliau setiap hari memperoleh satu misal dari seluruh kebaikan umatnya, serta dengan petunjuk jejak-jejak beliau di dalam kehidupan masyarakat, kehidupan maknawi, dan kehidupan manusia, Dia menjadikan beliau pemimpin, panutan, dan ustaz yang tertinggi bagi jenis manusia; dan Dia mengutus beliau dengan tugas-tugas besar lagi suci untuk menolong umat manusia, lalu menjadikan manusia membutuhkan agama beliau, syariat beliau, dan hakikat-hakikat yang ada di dalam Islam sampai ke derajat kebutuhan mereka kepada rahmat, hikmah, keadilan, makanan, udara, air, dan cahaya {(Catatan kaki): Di dalam usia tuaku dan keadaanku yang kacau ini, aku merasakan satu bagian dari sejuta rezeki maknawi yang dibawa oleh diri Muhammad صلى الله عليه وسلم. Andaikata aku sanggup, aku akan berterima kasih kepada beliau dengan jutaan lisan dan dengan salawat. Yaitu demikian:
Aku sangat tersakiti oleh perpisahan dan oleh lenyapnya segala sesuatu. Padahal dunia dan segala yang duniawi yang kucintai meninggalkan aku dan pergi dengan perpisahan. Aku pun tahu bahwa aku akan pergi. Terhadap rasa putus asa yang sangat pedih lagi mengiris jantung ini, aku tiba-tiba selamat dan memperoleh penghiburan yang sempurna dengan mendengar kabar gembira kebahagiaan abadi dan kehidupan yang kekal selamanya dari diri Ahmad صلى الله عليه وسلم. Bahkan ketika di dalam tasyahud aku mengucapkan اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِىُّ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ, hal itu merupakan baiat kepada beliau, penyerahan diri dan ketaatan kepada jabatan beliau, ucapan selamat atas tugas beliau, sekaligus semacam ucapan terima kasih dan sambutan atas kabar gembira kebahagiaan abadi — dan kaum Muslimin mengucapkan salam ini lima kali setiap hari.} — maka dengan semuanya itu, sementara Dia bersaksi secara suci atas kerasulan Muhammad صلى الله عليه وسلم dengan dua belas hujah yang menyeluruh lagi pasti, apakah sama sekali mungkin bahwa kerasulan Muhammad صلى الله عليه وسلم, yang memperoleh kesaksian-kesaksian yang sedemikian menyeluruh lagi luas dari Pemilik kainat ini — Zat yang tidak berlaku acuh terhadap penyusunan sayap seekor lalat dan sekuntum bunga — bukanlah matahari maknawi bagi kainat?
Maka lima belas kesaksian yang menyeluruh ini — masing-masingnya mengandung amat banyak kesaksian, bahkan "Kesaksian Ketiga" dengan lisan mukjizat mengandung seribu kesaksian — telah membuktikan dakwaan اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِٔ serta mengumumkan terwujudnya, nilainya, dan pentingnya dengan kepastian dan kekuatan sedemikian rupa, sehingga sebagaimana alam Islam setiap hari lima kali, dengan ratusan juta lisan, mengumumkan dakwaan itu kepada kainat di dalam tasyahud; demikian pula miliaran ahli iman telah membenarkan tanpa ragu dan menerima bahwa hakikat Muhammad صلى الله عليه وسلم, yang menjadi dasar dakwaan itu, adalah benih asal kainat, salah satu sebab penciptaannya, dan buahnya yang paling sempurna.
Dan Pemilik kainat ini (Jalla Jalâluhu) telah menjadikan pribadi maknawi Muhammad صلى الله عليه وسلم itu sebagai penyeru agung bagi kerajaan rububiyah-Nya, sebagai penyingkap yang benar bagi tilsam kainat dan teka-teki penciptaan, sebagai sebuah contoh yang cemerlang bagi kelembutan dan
rahmat-Nya, sebagai lisan yang fasih bagi kasih sayang dan kecintaan-Nya, sebagai pemberi kabar gembira yang paling kuat tentang kehidupan yang terus-menerus di alam yang kekal dan tentang kebahagiaan abadi, serta sebagai rasul yang paling akhir lagi paling agung di antara para utusan-Nya.
Maka bandingkanlah, betapa besar kerugian, kesalahan, kebodohan, dan kejahatan yang dilakukan oleh orang yang tidak merasa cukup dengan hakikat sebesar ini atau tidak menganggapnya penting!..
Maka sebagaimana Al-Fatihah di dalam salat, dengan isyarat-isyaratnya di dalam Bagian Kedua, memperlihatkan hujah-hujah yang pasti bagi dakwaan hakikat tauhid di dalam ٔاَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ pada tasyahud, lalu membubuhkan tanda tangan yang tak terhingga; demikian pula di dalam Bagian Ketiga ini, sekali lagi ia mendatangkan saksi-saksi yang kuat bagi dakwaan hakikat kerasulan di dalam وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِٔ pada tasyahud, lalu membuat tanda tangan pembenaran yang tidak berkesudahan dibubuhkan.
Yâ Arhamar-Râhimîn! Demi kemuliaan Rasul Yang Termulia صلى الله عليه وسلم ini, jadikanlah kami memperoleh syafaat beliau, berhasil mengikuti sunnah beliau, dan menjadi tetangga keluarga serta para sahabat beliau di negeri kebahagiaan; amin, amin, amin!
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَيْهِ وَ عَلٰى اٰلِه۪ وَ صَحْبِه۪ بِعَدَدِ حُرُوفِ الْقُرْاٰنِ الْمَقْرُوئَةِ وَ الْمَكْتُوبَةِ اٰم۪ينَ سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ