Risale-i NurSinar-Sinar

NUKTA KEDUA

Sinar-Sinar · hlm. 280

Adanya neraka dan azabnya yang keras tidaklah bertentangan dengan rahmat yang tak terhingga, dengan keadilan yang hakiki, dan dengan hikmah yang tidak sia-sia lagi penuh timbangan. Bahkan rahmat, keadilan, dan hikmah itulah yang menuntut adanya neraka. Sebab, sebagaimana menghukum seorang zalim yang menginjak-injak hak seribu orang tak berdosa

dan membunuh seekor binatang buas yang mencabik-cabik seratus hewan yang teraniaya merupakan seribu rahmat bagi mereka yang teraniaya di dalam keadilan; demikian pula memaafkan orang zalim itu dan melepaskan binatang buas itu berarti — sebagai ganti satu belas kasihan yang tidak pada tempatnya — ratusan sikap tanpa belas kasihan terhadap ratusan makhluk yang malang.

Persis seperti itu pula, orang kafir mutlak yang termasuk penghuni penjara neraka, dengan kekufurannya melanggar hak asma Ilahi karena ia mengingkarinya; melanggar hak segenap yang ada karena ia mendustakan kesaksian mereka yang bersaksi atas asma itu; melanggar hak seluruh makhluk karena ia mengingkari tugas-tugas mereka yang tinggi, yang mereka jalankan sambil bertasbih kepada asma itu; dan melakukan semacam pelanggaran terhadap hak tampaknya rububiyah Ilahi — yang merupakan tujuan penciptaan kainat serta salah satu sebab keberadaan dan kekalnya — karena ia mendustakan bahwa segenap makhluk menyambut rububiyah itu dengan ubudiyah mereka dan menjadi cermin baginya. Dari sisi ini, kekufurannya merupakan kejahatan dan kezaliman yang demikian besar sehingga tidak lagi layak diampuni. Ia berhak menerima ancaman ayat اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُشْرَكَ بِه۪.

Tidak melemparkannya ke neraka berarti, sebagai ganti satu belas kasihan yang tidak pada tempatnya, sikap tanpa belas kasihan yang tak terhingga terhadap para penuntut yang tak terhingga, yang hak-hak mereka dilanggar. Maka sebagaimana para penuntut itu menghendaki adanya neraka, demikian pula kemuliaan keperkasaan-Nya dan kebesaran kesempurnaan-Nya secara pasti menghendakinya.

Ya, sebagaimana seorang pemberontak liar yang mengganggu rakyat berkata kepada penguasa kota yang mulia itu: "Engkau tidak dapat memenjarakanku dan engkau tidak sanggup melakukannya," sehingga ia menyinggung kemuliaannya, sudah pasti — sekalipun di kota itu tidak ada penjara — penguasa itu akan membuat sebuah penjara bagi si kurang ajar tersebut dan melemparkannya ke dalamnya.

Persis seperti itu pula, orang kafir mutlak dengan kekufurannya menyinggung keras kemuliaan keperkasaan-Nya; dengan pengingkarannya ia menyentuh kebesaran kudrat-Nya; dan dengan pelanggarannya ia mengusik kesempurnaan rububiyah-Nya. Sudah pasti, sekalipun neraka tidak memiliki sekian banyak sebab yang mengharuskan adanya dan sekian banyak hikmah keberadaannya untuk sekian banyak tugas, menciptakan sebuah neraka bagi orang-orang kafir semacam itu dan melemparkan mereka ke dalamnya adalah sifat asali dari kemuliaan dan keperkasaan itu.

Selain itu, hakikat kekufuran itu sendiri pun memberitakan neraka. Ya, sebagaimana hakikat iman, seandainya menjelma dalam bentuk yang berwujud, dapat berubah menjadi surga khusus dengan segala kelezatannya, dan dari sisi ini ia memberitakan surga secara tersembunyi.

Persis seperti itu pula — sebagaimana telah dibuktikan dengan dalil-dalilnya di dalam Risale-i Nur dan telah diisyaratkan pula pada persoalan-persoalan di bagian awal — kekufuran, terlebih kufur mutlak, nifak, dan murtad memiliki penderitaan yang demikian gelap dan dahsyat serta azab maknawi yang sedemikian rupa, sehingga seandainya semua itu menjelma dalam bentuk yang berwujud, ia akan menjadi sebuah neraka khusus bagi orang murtad itu. Dan dari sisi ini ia memberitakan neraka yang besar secara tersembunyi. Dan

dari sisi bahwa hakikat-hakikat kecil di ladang persemaian dunia ini akan mengeluarkan bulir-bulirnya di akhirat, benih beracun itu menunjuk kepada pohon zaqqum. Ia berkata: "Aku adalah ragi baginya." Dan: "Bagi orang malang yang membawaku di dalam hatinya, contoh khusus dari pohon zaqqum itu menjadi buahku."

Selama kekufuran merupakan pelanggaran terhadap hak yang tak terhingga, sudah pasti ia adalah kejahatan yang tak terhingga. Kalau begitu, ia membuat pelakunya berhak menerima azab yang tak terhingga. Selama pembunuhan yang berlangsung satu menit diterima oleh keadilan manusia sebagai perbuatan yang harus dibalas dengan azab penjara lima belas tahun — yaitu hampir delapan juta menit — dan hal itu dipandang sesuai dengan kebaikan bersama serta hak-hak umum, sudah pasti — karena satu kekufuran setara dengan seribu pembunuhan — kufur mutlak selama satu menit dibalas dengan azab selama hampir delapan miliar menit, dan itu sesuai dengan kaidah keadilan tersebut. Orang yang menghabiskan umurnya selama satu tahun dalam kekufuran itu berhak menerima azab dalam hampir dua triliun delapan ratus delapan puluh miliar menit, dan ia menjadi tempat tampaknya rahasia ayat خَالِد۪ينَ ف۪يهَٓا اَبَدًا. Bagaimanapun juga...

Penjelasan Al-Qur'an Al-Hakîm yang penuh mukjizat tentang surga dan neraka, serta hujah-hujah Risale-i Nur — tafsir Al-Qur'an yang lahir darinya — mengenai adanya surga dan neraka, tidak lagi menyisakan kebutuhan akan keterangan lain. Banyak sekali ayat seperti وَيَتَفَكَّرُونَ ف۪ى خَلْقِ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ٭ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ اِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ٭ اِنَّهَا سَٓاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا; dan doa yang senantiasa dipanjatkan oleh Rasul Yang Termulia صلى الله عليه وسلم yang berada di barisan terdepan, oleh seluruh nabi, dan oleh ahli hakikat — yang paling sering mereka ucapkan اَجِرْنَا مِنَ النَّارِ ٭ نَجِّنَا مِنَ النَّارِ ٭ خَلِّصْنَا مِنَ النَّارِ — serta ucapan mereka, "peliharalah kami dari neraka," yaitu neraka yang bagi mereka telah mencapai tingkat kepastian berdasarkan wahyu dan apa yang mereka saksikan langsung; semua itu memperlihatkan bahwa persoalan terbesar umat manusia adalah selamat dari neraka. Dan salah satu hakikat kainat yang sangat penting, sangat besar, lagi sangat dahsyat adalah neraka; sebagian ahli syuhud, ahli kasyaf, dan

ahli tahkik menyaksikannya langsung. Sebagian lain melihat rembesan dan bayang-bayangnya, lalu menjerit karena dahsyatnya. Mereka berkata: "Selamatkanlah kami darinya!"

Ya, di dalam kainat ini, kebaikan dan kejahatan, kelezatan dan penderitaan, cahaya dan gelap, panas dan dingin, keindahan dan keburukan, hidayah dan jalan sesat saling berhadapan dan saling masuk satu sama lain demi hikmah yang sangat besar. Sebab jika tidak ada kejahatan, kebaikan tidak akan dikenal. Jika tidak ada penderitaan, kelezatan tidak akan dipahami. Cahaya tanpa gelap tidak memiliki arti penting. Dengan adanya dingin, tingkatan-tingkatan panas menjadi nyata. Dengan adanya keburukan, satu hakikat kebagusan menjadi seribu hakikat, dan lahirlah ribuan macam tingkatan kebagusan. Tanpa neraka, banyak sekali kelezatan surga akan tetap tersembunyi. Dengan mengiaskan kepada semua ini, segala sesuatu dari satu segi dapat dikenal melalui lawannya. Dan satu hakikat saja dapat mengeluarkan bulir sehingga menjadi banyak hakikat.

Selama segenap yang ada yang bercampur baur ini terus mengalir dari negeri yang fana menuju negeri yang kekal, sudah pasti — sebagaimana kebaikan, kelezatan, cahaya, keindahan, dan iman mengalir ke surga — demikian pula bahan-bahan berbahaya seperti kejahatan, penderitaan, gelap, keburukan, dan kekufuran tercurah ke neraka. Dan banjir-banjir kainat yang terus-menerus bergolak ini masuk ke dalam dua kolam itu, lalu berhenti di sana. Kami memendekkan pembahasan ini seraya menyerahkannya kepada nukta-nukta simbolis di akhir Kelimat Kedua Puluh Sembilan yang penuh karamah.

Wahai teman-teman sepelajaranku di Madrasah Yusufiyah ini! Cara termudah dan jalan keluar untuk selamat dari penjara abadi yang dahsyat itu ialah dengan memanfaatkan penjara duniawi kita ini: di samping kita terlepas dari banyak dosa yang tangan kita terpaksa tidak sampai kepadanya, kita bertobat dari dosa-dosa lama dan menunaikan segala fardu kita, sehingga setiap jam umur kita di dalam penjara ini beralih menjadi satu hari ibadah; inilah kesempatan yang paling baik bagi keselamatan kita dari penjara abadi itu dan bagi masuknya kita ke dalam surga yang bercahaya. Jika kita melewatkan kesempatan ini, sebagaimana dunia kita menangis, akhirat kita pun akan menangis. Kita akan menerima tamparan خَسِرَ الدُّنْيَا وَ الْاٰخِرَةَ.

Ketika maqam ini ditulis, datanglah Hari Raya Kurban.

Dengan seruan-seruan اَللّٰهُ اَكْبَرُ اَللّٰهُ اَكْبَرُ اَللّٰهُ اَكْبَرُ, dibuat-Nya seperlima umat manusia, yakni tiga ratus juta manusia, mengucapkan اَللّٰهُ اَكْبَرُ serentak; dan lebih dari dua puluh ribu jemaah haji mengucapkan اَللّٰهُ اَكْبَرُ bersama-sama sekaligus di Arafah dan pada hari raya, seolah-olah bumi yang besar ini — seukuran kebesarannya — memperdengarkan kalimat suci اَللّٰهُ اَكْبَرُ itu kepada kawan-kawannya, yakni planet-planet di langit. Semua ucapan itu, yang seribu tiga ratus tahun yang lalu diucapkan dan diperintahkan oleh Rasul Yang Termulia صلى الله عليه وسلم

bersama keluarga dan para sahabatnya, adalah semacam gema dari kalimat اَللّٰهُ اَكْبَرُ tersebut, dan merupakan sambutan dengan ubudiyah yang luas lagi menyeluruh terhadap tajalli menyeluruh dari rububiyah Ilahi dengan gelar keagungan-Nya رَبُّ الْاَرْضِ وَ رَبُّ الْعَالَم۪ينَ. Demikianlah yang aku bayangkan, aku rasakan, dan aku yakini.

Kemudian aku pun teringat: adakah kalimat suci ini memiliki kaitan pula dengan persoalan kita? Tiba-tiba terlintas dalam hati bahwa kalimat ini, dan bersamanya banyak kalimat syiar lain yang menyandang gelar baqiyatus-salihat, seperti سُبْحَانَ اللّٰهِ, ٔاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ, dan لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ, mengingatkan persoalan kita, yang juz'i maupun yang menyeluruh, serta mengisyaratkan bahwa persoalan itu pasti terjadi.

Sebagai contoh, salah satu segi makna اَللّٰهُ اَكْبَرُ ialah: kudrat dan ilmu Allah lebih besar daripada segala sesuatu; tidak ada satu pun yang dapat keluar dari lingkaran ilmu-Nya, tidak ada yang dapat lari dan lolos dari tasarruf kudrat-Nya. Dan Dia lebih besar daripada segala hal terbesar yang kita takuti. Berarti Dia lebih besar daripada mendatangkan kebangkitan, daripada menyelamatkan kita agar tidak lenyap sama sekali, dan daripada menganugerahkan kebahagiaan abadi. Dia lebih besar daripada segala sesuatu yang menakjubkan dan yang berada di luar jangkauan akal, sehingga — dengan kejelasan yang pasti dari ayat مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ اِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ — kebangkitan dan penyebaran seluruh umat manusia terasa mudah bagi kudrat itu, semudah menciptakan satu jiwa saja. Karena makna inilah, laksana sebuah peribahasa, setiap orang di hadapan musibah-musibah besar dan tujuan-tujuan besar mengucapkan, "Allah Mahabesar, Allah Mahabesar," lalu menjadikannya penghibur, kekuatan, dan titik sandaran bagi dirinya.

Ya, sebagaimana di dalam Kelimat Kesembilan telah dijelaskan bahwa kalimat ini bersama dua kawannya adalah benih-benih dan saripati salat yang menjadi daftar isi seluruh ibadah, dan bahwa سُبْحَانَ اللّٰهِ ٭ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ ٭ اَللّٰهُ اَكْبَرُ yang diulang-ulang di dalam salat dan di dalam tasbihnya untuk menguatkan makna salat itu memberikan jawaban yang teramat kuat bagi tiga hakikat yang agung, dan juga bagi pertanyaan-pertanyaan manusia yang lahir dari rasa takjub, rasa lezat, dan rasa gentar penuh hormat yang ia peroleh dari sekian banyak perkara luar biasa, menakjubkan, indah, lagi besar yang ia lihat di kainat, yang menjadi sumber rasa takjub, sumber rasa syukur, serta sumber keagungan dan kebesaran; demikian pula halnya dengan apa yang dijelaskan pada akhir Kelimat Keenam Belas, yaitu:

Sebagaimana seorang prajurit pada hari raya masuk ke hadapan sultan bersama seorang panglima besar, sedangkan pada waktu-waktu lain ia mengenal sultan itu melalui martabat perwiranya; demikian pula setiap orang, ketika berhaji, mulai mengenal Allah dengan gelar رَبُّ الْاَرَضِ وَ رَبُّ الْعَالَم۪ينَ, seperti para wali dalam satu tingkatan. Dan setiap kali tingkatan-tingkatan kebesaran itu terbuka bagi hatinya, seluruh pertanyaan takjub yang berulang lagi membara yang menguasai ruhnya pun dijawab, lagi-lagi dengan pengulangan اَللّٰهُ اَكْبَرُ. Sebagaimana pula, seperti yang dijelaskan pada akhir Lem'a Ketiga Belas, yang memotong tipu daya setan yang paling penting sampai ke akarnya dan memberikan jawaban yang pasti itu pun lagi-lagi adalah اَللّٰهُ اَكْبَرُ, dan sebagaimana ia memberikan jawaban yang ringkas namun kuat bagi pertanyaan kita tentang akhirat; demikian pula kalimat ٔاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ mengingatkan kepada kebangkitan dan menuntutnya.

Ia berkata kepada kita: "Maknaku tidak mungkin ada tanpa akhirat. Sebab, karena aku menyatakan bahwa dari azali sampai abadi, dari siapa pun dan kepada siapa pun, segala pujian dan syukur hanyalah milik-Nya, maka yang menjadi puncak segala nikmat, yang menjadikan segala nikmat sebagai nikmat yang hakiki, dan yang menyelamatkan seluruh makhluk berkesadaran dari musibah tak terhingga karena lenyap sama sekali, hanyalah kebahagiaan abadi. Dan hanya ia yang sepadan dengan maknaku yang menyeluruh itu."

Ya, ucapan setiap mukmin sesudah salat, yang menurut syariat setiap hari tidak kurang dari seratus lima puluh kali ٔاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ ٔاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ, dan maknanya yang menyatakan pujian serta syukur yang tak terhingga luasnya dari azali sampai abadi, sungguh tidak lain adalah harga yang dibayar di muka dan nilai yang disegerakan bagi kebahagiaan abadi dan surga. Ia tidak terbatas dan tidak khusus pada nikmat-nikmat dunia yang singkat lagi bercampur dengan derita yang akan lenyap; bahkan ia memandang nikmat-nikmat itu pun dari sisi bahwa semuanya menjadi perantara menuju nikmat yang kekal, lalu ia bersyukur.

Adapun kalimat suci سُبْحَانَ اللّٰهِ, dengan maknanya yang menyucikan dan membersihkan Allah dari sekutu, dari cacat, dari kekurangan, dari kezaliman, dari kelemahan, dari sikap tanpa kasih sayang, dari kebutuhan, dari perbuatan menipu, dan dari segala cacat yang bertentangan dengan kesempurnaan, keindahan, serta keagungan-Nya, mengingatkan sekaligus menunjukkan dan mengisyaratkan kepada kebahagiaan abadi, kepada negeri akhirat yang menjadi sumber kemegahan bagi keagungan, keindahan, dan kesempurnaan kerajaan-Nya, serta kepada surga yang ada di dalamnya. Jika tidak demikian, sebagaimana telah dibuktikan sebelumnya, seandainya kebahagiaan abadi tidak ada, maka baik kerajaan-Nya,

maupun kesempurnaan-Nya, keagungan-Nya, keindahan-Nya, dan rahmat-Nya, semuanya akan ternoda oleh noda cacat dan kekurangan.

Maka, seperti ketiga kalimat suci ini, بِسْمِ اللّٰهِ dan لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ serta kalimat-kalimat mubarak yang lain, masing-masing merupakan benih dari rukun-rukun iman dan — laksana saripati daging dan saripati gula yang ditemukan pada zaman ini — merupakan saripati dari rukun-rukun iman sekaligus saripati dari hakikat-hakikat Al-Qur'an; dan sebagaimana ketiganya menjadi benih salat, ia pun menjadi benih Al-Qur'an, tampak laksana intan pada permulaan sebagian surah yang bercahaya, dan menjadi tambang sejati, asas, serta benih bagi hakikat-hakikat Risale-i Nur pula, yang banyak ilhamnya bermula di dalam tasbih sesudah salat.

Dan dari segi kewalian Ahmad صلى الله عليه وسلم serta ubudiyah Muhammad صلى الله عليه وسلم, ketiganya merupakan wirid sebuah tarekat Muhammad صلى الله عليه وسلم di dalam sebuah lingkaran zikir pada tasbih sesudah salat, yang pada setiap waktu salat lebih dari seratus juta mukmin bersama-sama, di dalam lingkaran zikir terbesar itu, dengan tasbih di tangan mereka, mengulang سُبْحَانَ اللّٰهِ tiga puluh tiga kali, ٔاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ tiga puluh tiga kali, dan اَللّٰهُ اَكْبَرُ tiga puluh tiga kali.

Maka, di dalam lingkaran zikir yang demikian megah itu, tentu kalian telah memahami betapa berharga dan betapa besar pahala membaca ketiga kalimat mubarak itu sebanyak tiga puluh tiga kali sesudah salat — kalimat-kalimat yang, sebagaimana telah kami terangkan sebelumnya, merupakan saripati dan benih dari Al-Qur'an, dari iman, dan dari salat.

Sebagaimana Persoalan Pertama pada awal risalah ini merupakan pelajaran yang indah mengenai salat, demikian pula bagian akhirnya, tanpa pernah aku pikirkan dan hampir-hampir di luar kehendakku, menjadi pelajaran penting mengenai tasbih sesudah salat. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى اِنْعَامِه۪ سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ