Para murid Nur yang berada di Isparta dan sekitarnya
Sinar-Sinar · hlm. 338
Karena menolak isi surat ini dengan sikap rendah hati — padahal isinya seratus derajat melampaui kadar diriku — merupakan kufur nikmat dan pengkhianatan terhadap husnuzan seluruh murid, sedangkan menerimanya apa adanya mengandung kesombongan, ananiyah (keakuan), dan rasa keakuan diri; maka surat panjang yang ditulis oleh juru tulis Risale-i Nur atas nama semua ini — setelah kutambahkan tiga belas alinea padanya — kukirimkan satu salinannya kepada kalian, baik sebagai syukur maknawi maupun agar aku terlepas dari kesombongan dan dari kufur nikmat, supaya ia dilampirkan pada akhir Persoalan Kesebelas Risalah Buah dengan keterangan: "Sebuah surat dari murid-murid Risale-i Nur di Isparta dan sekitarnya".
Ketika kami menulis surat ini beserta perbaikan-perbaikan itu, dua kali seekor merpati datang ke jendela di samping kami. Ia hendak masuk ke dalam, tetapi melihat kepala Ceylan, lalu tidak jadi masuk. Beberapa menit kemudian datang pula seekor yang lain persis seperti itu. Ia pun melihat orang yang sedang menulis, lalu tidak masuk. Aku berkata: Pastilah keduanya pembawa kabar gembira, seperti burung pipit dan burung kuddus yang dahulu. Atau, karena kami menulis beberapa surat semacam surat ini, keduanya datang untuk mengucapkan selamat atas berkah surat yang diberkahi ini setelah ia diperbaiki; demikianlah keyakinan yang datang kepada kami.