PELENGKAP AYAT
Sinar-Sinar · hlm. 717
اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْش۪ى بِه۪ فِى النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِى الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا
Tiga hubungan yang sekaligus menguatkan dan memperhalus isyarat kuat dari ayat ini datang ke dalam hatiku pada bulan Ramadan. Ia memberikan keyakinan yang pasti bahwa yang paling tepat bagi kata مَيْتًا adalah Said. Salah satu hikmah mengapa ayat ini memperlihatkan Said, penerjemah Risale-i Nur, dengan gelar "mayat" adalah ini:
Dialah yang dengan Risale-i Nur membuka teka-teki dan tilsam (rahasia terkunci) kematian; di bawah wajahnya yang menakutkan itu ia menyingkap dan membuktikan sebuah hakikat yang bagi ahli iman sangat akrab, menggembirakan, lagi bercahaya. Dan terhadap orang-orang yang ingkar kepada Allah, yang tenggelam di dalam kehidupan fana yang berlumur kematian, ia membalas dengan penuh kemenangan melalui sebuah kematian lahiriah yang sementara namun berlumur kehidupan yang kekal. Orang-orang ingkar yang menjadi tempat tampaknya rahasia كَمَنْ مَثَلُهُ فِى الظُّلُمَاتِ menghiasi kehidupan itu dengan membolehkan segala syahwat yang tidak halal; sebaliknya Risale-i Nur mengeluarkan kematian ke hadapan kehidupan fana yang menipu itu lalu memporak-porandakan kelezatan dan perhiasannya. Dan ia berkata serta membuktikan: "Kematian bagi orang-orang yang sesat adalah hukuman mati abadi; dan yang menyelamatkan dari tiang gantungan yang dahsyat itu serta mengubah kematian menjadi sebuah surat pelepasan tugas yang penuh berkah hanyalah Al-Qur'an dan iman."
Karena itulah hakikat kematian yang teramat agung ini menempati kedudukan yang sangat penting lagi luas di dalam Risale-i Nur; bahkan di dalam kebanyakan serangannya ia memegang kematian di tangannya lalu memukulkannya ke kepala orang-orang yang sesat, dan berusaha menyadarkan akal mereka.
Yang kedua: Rabithah kematian — yaitu mengingat kematian, salah satu dari empat dasar ahli tarekat, khususnya para pengikut tarekat Naqsyabandi, dan yang paling kuat pengaruhnya di antara dasar-dasar itu — telah mengubah Said Lama menjadi Said Baru (radiyallahu anhu), dan senantiasa menjadi kawan seperjalanan Said Baru di dalam gerak pemikirannya. Terutama di dalam Risalah Orang-Orang Tua, di dalam risalah-risalah itu rabithah tersebut terus-menerus memperlihatkan apa yang tersingkap olehnya, sehingga ia melihat lalu memperlihatkan hakikat kematian yang bercahaya, penuh kehidupan, lagi indah bagi ahli iman.
Yang ketiga: Dengan hitungan jifir dan abjad, ayat ini memperlihatkan persis waktu dan tarikh bersentuhannya tiga macam kematian yang menyerang Said dari segala penjuru, lalu bertawafuk dengannya. Jadi, di antara satuan-satuan yang tercakup dalam kata "mayat" di dalam ayat itu, satuan yang menjadi pusat perhatian — dan yang namanya secara jifir bertawafuk tepat dengan bilangan "mayat" sehingga menjadi tempat tampaknya isyarat khusus, yaitu sebuah masadak (sasaran makna yang tepat) — adalah "Said Nursî".