Risale-i NurSinar-Sinar

RAMZ KEENAM

Sinar-Sinar · hlm. 767

Karena Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu, berdasarkan pelajaran yang ia terima dari gurunya yang suci, memberitakan peristiwa-peristiwa mendatang yang berkaitan dengan Al-Qur'an. Dan karena dengan berkata, “Bertanyalah kepadaku!” ia telah memberikan banyak kabar yang benar, lalu membuktikan dengan karamah-karamah semacam itu bahwa dirinya adalah seorang raja para wali. Dan karena pada abad ini, ketika orang-orang Eropa yang tidak beragama dan kaum munafik yang sesat menyerang Al-Qur'an dengan cara yang

dahsyat, Risale-i Nur bertahan menghadapi arus deras yang menyesatkan itu, lalu menyingkap tilsam-tilsam Al-Qur'an dan menjaga hakikatnya. Dan karena dengan fikrah اَقِدْ كَوْكَب۪ى بِالْاِسْمِ نُورًا وَ بَهْجَةً مَدَى الدَّهْرِ وَ الْاَيَّامِ يَا نُورُ جَلْجَلَتْ — sebagaimana telah dibuktikan di dalam Lem'a Kedua Puluh Delapan — ia mengisyaratkan kepada Risale-i Nur dengan cara yang hampir terang-terangan, sekaligus mengisyaratkan bahwa Ayatun-Nur di dalam Surah An-Nur mengisyaratkan kepada Risale-i Nur. Dan karena اَقِدْ كَوْكَب۪ى بِالْاِسْمِ نُورًا bertawafuk dengan tepat sekali kepada Risale-i Nur, baik secara makna maupun secara jifir. Maka sudah pasti kami dapat mengatakan bahwa tepat sesudah fikrah itu, dengan fikrah بِاٰجٍ اَهُوجٍ جَلْمَهُوجٍ جَلَالَةٍ ٭ جَل۪يلٍ جَلْجَلَيُّوتٍ جَمَاهٍ تَمَهْرَجَتْ بِتَعْدَادِ اَبْرُومٍ وَ سِمْرَازِ اَبْرَمٍ ٭ وَ بَهْرَةِ تِبْر۪يزٍ وَ اُمٍّ تَبَرَّكَتْ, dua belas kata Suryani di dalam fikrah ini — dengan karinah اَقِدْ كَوْكَب۪ى — masing-masing merupakan sebuah isyarat kepada dua belas risalah kecil Risale-i Nur yang pada mulanya masyhur dan tersebar dengan nama Dua Belas Kalimat. Memang naskah Jaljalutiyah yang ada padaku adalah yang paling sahih dan paling terpercaya. Banyak imam, seperti Imam Al-Ghazali radiyallahu anhu, telah mensyarah Jaljalutiyah. Namun, karena aku tidak mengetahui sepenuhnya makna kata-kata Suryani itu, karena terdapat perbedaan di antara naskah-naskahnya, dan karena untuk sementara aku belum mengetahui segi isyarat serta kaitan masing-masingnya, maka aku tinggalkan.

Kesimpulannya: Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu, pada kali pertama dengan fikrah اَقِدْ كَوْكَب۪ى, memohon dan meminta Risale-i Nur kepada Allah dengan doa untuk akhir zaman; dan karena pada mulanya ia hanya terdiri atas dua belas risalah, ia hanya mengisyaratkan kepada dua belas risalahnya. Pada kali kedua, dengan fikrah تُقَادُ سِرَاجُ النُّورِ, ia memperlihatkan Risale-i Nur dengan cara yang lebih terang-terangan melalui pujian dan sanjungan, lalu — seraya mengisyaratkan kepada kesempurnaannya — memberitakan secara ramz seluruh Sözler, Mektubat, dan Lem'alar. Lagi pula, risalah-risalah mungil yang tersebar luas dengan nama Dua Belas Kalimat itu, sebagaimana saling menyerupai satu sama lain dari sisi nama dan rupanya seperti kata-kata di dalam fikrah ini, demikian pula — sesuai dengan kata Jaljalutiyah yang bermakna indah lagi menakjubkan — masing-masingnya menafsirkan dan membuktikan sebuah hakikat Qur'ani yang besar lagi dalam dengan cara yang sangat menakjubkan, melalui sebuah perumpamaan yang indah.

Jika ada seorang yang keras kepala berkata: Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu tidak memaksudkan seluruh makna majasi ini?

Maka kami menjawab: Andaikata Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu tidak memaksudkannya, kalam itu sendiri tetap menunjukkannya; dan dengan kekuatan karinah-karinah, ia memasukkan makna-makna itu ke dalam dirinya melalui petunjuk isyari dan petunjuk tersirat. Dan karena makna-makna majasi serta mafhum-mafhum isyari itu haq, benar, sesuai dengan kenyataan, layak menerima perhatian ini, dan karinah-karinahnya kuat — maka sudah pasti, andaikata pada Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu tidak terdapat perhatian menyeluruh yang memaksudkan seluruh makna isyari semacam itu, tetap saja — mengingat Jaljalutiyah itu wahyu — perhatian menyeluruh dari Nabi Yang Mulia صلى الله عليه وسلم, pemilik hakikinya sekaligus guru Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu, serta ilmu yang meliputi segala sesuatu milik Sang Guru Dzul-Jalâl, yaitu Guru dari guru beliau, memandang kepada makna-makna itu dan memasukkannya ke dalam lingkaran kehendak.

Salah satu sebab keyakinanku yang khusus, pasti, dan sampai ke derajat yakin dalam hal ini ialah: karena aku sangat bersusah payah menulis Sinar Ketujuh yang merupakan tafsir teragung bagi Al-Ayatul Kubra di tengah kesulitan-kesulitan yang besar, aku sungguh sangat membutuhkan hiburan dan dorongan yang suci. Sampai kini, melalui pengalaman yang berulang-ulang, inayah Ilahi selalu datang menolongku dalam keadaan-keadaan semacam ini. Tepat pada waktu aku menyelesaikan risalah itu — padahal sama sekali tidak terlintas dalam benakku — tiba-tiba munculnya karamah Alawiyah ini tidak menyisakan keraguan sedikit pun padaku bahwa hal ini pun, seperti inayah Ilahi yang lain yang datang menolongku, adalah sebuah inayah dari Rabb Yang Rahîm. Dan inayah tidak pernah menipu, tidak pernah tanpa hakikat.