RAMZ KETUJUH
Sinar-Sinar · hlm. 770
Sebagaimana Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu berkata: وَ بِالْاٰيَةِ الْكُبْرٰى اَمِنّ۪ى مِنَ الْفَجَتْ وَ بِحَقِّ فَقَجٍ مَعَ مَخْمَةٍ يَا اِلٰهَنَا وَ بِاَسْمَائِكَ الْحُسْنٰى اَجِرْن۪ى مِنَ الشَّتَتْ حُرُوفٌ لِبَهْرَامٍ عَلَتْ وَ تَشَامَخَتْ وَ اسْمُ عَصَا مُوسٰى بِهِ الظُّلْمَتُ انْجَلَتْ — dan dengan fikrah pertamanya ia mengisyaratkan kepada Sinar Ketujuh — demikian pula dengan fikrah yang sama ia mengisyaratkan kepada Lem'a Kedua Puluh Sembilan berbahasa Arab, yang merupakan sebuah risalah tafakur yang tinggi dan sebuah risalah makrifat yang tinggi tentang tauhid. Dengan fikrah keduanya ia menunjuk kepada enam asma masyhur yang disebut Ismul A'zham dan Sakinah, yang
hakikat-hakikatnya diterangkan serta dibuktikan dengan cara yang sangat tinggi oleh Risalah Enam Nukta Asma yang bernama Lem'a Ketiga Puluh, risalah yang mengiringi Lem'a Kedua Puluh Sembilan; ia mengisyaratkan kepadanya dengan kalimat بِاَسْمَائِكَ الْحُسْنٰى اَجِرْن۪ى مِنَ الشَّتَتْ. Sesudah itu, tepat sesudahnya, dengan kata حُرُوفٌ لِبَهْرَامٍ عَلَتْ وَ تَشَامَخَتْ ia mengisyaratkan kepada risalah yang menjadi Sinar Pertama dari Lem'a Ketiga Puluh Satu yang mengiringi Risalah Asma, yang mencatat isyarat-isyarat tiga puluh tiga ayat Al-Qur'an kepada Risale-i Nur, dan yang — karena kaitannya dengan hitungan jifir — dari awal hingga akhir tampak seperti risalah ilmu huruf serta berkedudukan sebagai sebuah mukjizat Qur'ani. Lalu, langsung sesudahnya, dengan kalam وَ اسْمُ عَصَا مُوسٰى بِهِ الظُّلْمَتُ انْجَلَتْ ia memberikan isyarat kepada risalah Risale-i Nur yang untuk sementara ini paling akhir — risalah yang mengiringi risalah ilmu huruf itu, yang tersusun dari Al-Ayatul Kubra dan risalah-risalah Nur yang lain, yang mengambil nama Asa-yı Musa, dan yang seperti tongkat Musa membatalkan sihir yang menyesatkan dan sihir syirik — seraya memberikan nama Asa-yı Musa kepadanya, sekaligus menyampaikan kabar gembira bahwa risalah itu akan menghalau gelap gulita maknawi.
Ya, sebagaimana isyarat kepada Sinar Ketujuh melalui kalimat وَ بِالْاٰيَةِ الْكُبْرٰى telah dibuktikan dengan karinah-karinah yang kuat, demikian pula kalimat yang sama itu, dengan makna yang lain, memandang kepada Lem'a Kedua Puluh Sembilan — yang sungguh berkedudukan sebagai Ayatul Kubra bagi Risale-i Nur, yang menghimpun ruh sebagian besar risalah, dan yang berbahasa Arab — sebab kalam ini, dengan kaidah "mustatba'âtut-tarâkîb", memandang kepadanya dan memasukkannya ke dalam cakupannya. Kalau begitu, dapat kita katakan bahwa Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu pun memandang kepadanya dari fikrah ini dan mengisyaratkannya.
Baik dengan karinah isyarat-isyarat yang lain, maupun dengan mengisyaratkan Lem'a-Lem'a sesudah Mektubat memakai gaya ungkapan yang lain; karena ditulisnya Lem'a yang paling cemerlang terjadi pada masa yang dahsyat, dan demi terlepas dari penjara serta hukuman mati dan demi memperoleh keamanan dan keselamatan, Sayidina Ali radiyallahu anhu — dengan makna majasi dan mafhum isyari — memakai lisannya sendiri atas nama penulis yang berada di dalam bahaya besar, lalu berdoa: وَ بِالْاٰيَةِ الْكُبْرٰى اَمِنّ۪ى مِنَ الْفَجَتْ yakni "Wahai Rabbku! Selamatkanlah aku, berilah aku aman dan keamanan." Maka dengan karinah tawafuk yang tepat sekali dengan keadaan Lem'a Kedua Puluh Sembilan — yang ditulis di Penjara Eskişehir di tengah bahaya hukuman mati dan penjara yang panjang — serta keadaan pemiliknya, dan karena kalam itu menunjukkan secara tersirat lagi isyari, dapatlah kita katakan bahwa Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu pun mengisyaratkan risalah itu dari sini.
Selain itu, dengan memandang kepada Risalah Asma yang bernama Lem'a Ketiga Puluh dan terdiri atas enam nukta, beliau berkata وَ بِاَسْمَائِكَ الْحُسْنٰى; maka baik dengan karinah isyarat-isyarat yang lain, maupun dengan karinah urutan yang mengikuti Lem'a Kedua Puluh Sembilan, maupun dengan karinah tawafuk keduanya pada kata "isim" dan pada lafal "asma", maupun karena penulis yang jatuh ke dalam keadaan tercerai-berai, ke dalam perantauan yang menyesakkan, dan ke dalam keadaan porak-poranda itu memperoleh hiburan serta kesanggupan bertahan berkat berkah penulisan risalah tersebut; dan dari segi makna majasi, doa yang dipanjatkan untuk dirinya sendiri dengan lisan Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu, yaitu وَ بِاَسْمَائِكَ الْحُسْنٰى اَجِرْن۪ى مِنَ الشَّتَتْ, yakni "Wahai Rabbi! Dengan berkah Risalah Asma yang merupakan Ismul A'zham itu, peliharalah aku dari tercerai-berai dan dari porak-poranda!" — maka dengan karinah tawafuknya yang tepat sekali dengan keadaan risalah itu dan pemiliknya, dapat kita katakan bahwa kalam itu menunjukkan secara majasi dan Imam Ali radiyallahu anhu mengisyaratkannya secara gaib.
Dan selama asal Jaljalutiyah adalah wahyu, penuh rahasia, memandang kepada masa yang akan datang, serta mengabarkan urusan-urusan masa depan yang gaib;
Dan selama, ditinjau dari sisi Al-Qur'an, abad ini adalah abad yang dahsyat, dan atas nama Al-Qur'an, Risale-i Nur adalah peristiwa yang penting di abad yang gelap ini;
Dan selama, dengan banyak karinah dan tanda yang sampai ke derajat sarih, Risale-i Nur telah masuk ke dalam Jaljalutiyah dan menempati tempatnya yang paling penting;
Dan selama Risale-i Nur beserta juz-juznya memang layak menempati kedudukan ini, dan padanya ada kelayakan serta nilai untuk menerima pandangan penghargaan dan pujian Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu, juga untuk dikabarkan oleh beliau;
Dan selama Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu, setelah mengabarkan Sirajunnur secara terang, kemudian pada derajat kedua dengan cara yang terselubung mengabarkan Sözler, lalu Mektubat, lalu Lem'alar — di bawah urutan yang sama, kedudukan yang sama, dan nomor yang sama seperti pada risalah-risalah itu — telah membuktikan bahwa dengan dorongan karinah-karinah yang kuat kalam itu menunjukkannya dan Sayidina Imam Ali radiyallahu anhu mengisyaratkannya;