Risale-i NurSinar-Sinar

Saudara-saudaraku!

Sinar-Sinar · hlm. 391

Jika surat-surat kecil tentang hiburan yang telah ditulis sebelumnya, seperti surat ini, sesekali dibaca; jika bagian-bagian akhir Risalah Buah secara khusus ditelaah bersama-sama; dan jika persoalan-persoalan Risale-i Nur yang terlintas di hati dimusyawarahkan, insyaallah hal itu akan mendatangkan kemuliaan sebagai penuntut ilmu. Tokoh-tokoh besar seperti Imam Asy-Syafi'i qaddasallahu sirrahu sangat menekankan hal ini dengan berkata, "Bahkan tidur seorang penuntut ilmu pun terhitung ibadah." Di zaman yang tanpa madrasah seperti ini, di tempat-tempat penuh siksaan seperti ini, sekalipun karena kedudukan sebagai penuntut ilmu yang begitu tinggi ini datang seratus kesukaran, kita tidak boleh memedulikannya; atau hendaklah kita mengucapkan خَيْرُ الْاُمُورِ اَحْمَزُهَا lalu tertawa dengan gembira karena kesukaran-kesukaran itu.

Adapun mengenai anak-istri dan urusan penghidupan para sahabat yang fakir, maka berdasarkan kaidah Qur'ani, imani, dan Nuri — yaitu di dalam musibah hendaklah memandang kepada orang yang lebih besar musibahnya, dan di dalam nikmat hendaklah memandang kepada orang yang lebih sedikit nikmatnya — mereka lebih lapang daripada delapan puluh persen manusia. Sebagaimana mereka sama sekali tidak berhak mengeluh, demikian pula syukur sebanyak delapan puluh derajat menjadi hak yang wajib atas mereka.

Selain itu, bahwa kita mengambil dan memakan bagian rezeki kita di sini telah ditetapkan oleh takdir Ilahi. Keadilan yang penuh rahmat telah menghimpun kita di sini, sedangkan anak-istri kita kepada Ar-Razzâq Yang Hakiki

telah dititipkan, dan untuk sementara kita dilepaskan dari tugas mengurus mereka. Sebagaimana pada suatu hari nanti tangan kita akan ditarik sepenuhnya dari mereka dan kita akan dicopot dari tugas itu. Selama hakikatnya demikian, hendaklah kita mengucapkan حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ lalu bersyukur dengan berserah diri.