Risale-i NurSinar-Sinar

Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!

Sinar-Sinar · hlm. 389

Pada fajar ini aku merasakan belas kasihan yang mendalam terhadap kalian masing-masing. Tiba-tiba teringatlah Risalah Orang-Orang Sakit, dan ia memberi hiburan.

Ya, musibah ini pun merupakan semacam penyakit sosial. Kebanyakan obat iman yang ada di dalam risalah itu terdapat pula di dalam musibah ini. Terutama sebagaimana yang kukatakan kepada orang sakit yang mubarak di Erzurum: sebelum saat ini, seluruh derita dari masa musibah itu telah berlalu, sedangkan pahalanya, kebaikannya, serta faedah duniawi, ukhrawi, imani, dan Qur'ani-nya tetap tinggal. Berarti satu musibah yang sementara itu telah berubah menjadi nikmat-nikmat yang terus-menerus lagi berlipat ganda. Adapun masa yang akan datang, karena untuk sekarang ia belum ada, maka musibah yang akan berlangsung di dalamnya pun untuk sekarang tidak memiliki derita. Mengambil derita dari sesuatu yang tidak ada dengan waham adalah sikap tidak percaya kepada rahmat dan takdir Ilahi.

Kedua: Kini di muka bumi kebanyakan manusia terbelit oleh musibah, baik lahir maupun batin, baik pada hati, pada ruh, maupun pada pikiran. Musibah kami, dibandingkan dengan musibah mereka, sangatlah ringan sekaligus menguntungkan. Di dalamnya terdapat kelezatan bagi hati dan bagi ruh, juga kelezatan iman, keselamatan, dan kesehatan.

Ketiga: Seandainya di tengah badai ini kami tidak masuk ke sini, niscaya musibah yang ringan ini menjadi berat karena berhadapan dengan para pegawai yang penuh waswas, dan niscaya kami tertimpa bala berupa berpura-pura dan menjilat di hadapan mereka.

Keempat: Di dalam musim dingin lahir dan batin yang berlipat ganda lagi tanpa pekerjaan ini, di Madrasah Yusufiyah yang menjadi salah satu ruang belajar Madrasatuz-Zahra ini, dari sisi dapat melihat dan mengunjungi sekian banyak sahabat hakiki yang lebih penyayang daripada saudara kandung serta saudara-saudara ukhrawi yang laksana mursyid — dengan sangat murah dan dengan biaya yang sedikit — dapat mengambil manfaat dari kelebihan khusus mereka, serta dapat mengambil kekuatan dari kebaikan-kebaikan mereka yang menjalar laksana cahaya dan makhluk bercahaya pada benda-benda yang bening, dari bantuan maknawi mereka, dari kegembiraan mereka, dan dari hiburan mereka; maka musibah ini berubah bentuk dan menjadi semacam tabir inayah.

Ya, di antara keindahan halus dari inayah yang tersembunyi ini adalah bahwa semua murid Risale-i Nur yang datang ke sini diberi nama "Hocalar" (para guru agama). Setiap orang menyebut mereka di lisannya dengan hormat: "Hocalar, hocalar." Di dalam keindahan ini terdapat isyarat yang halus bahwa sebagaimana penjara ini telah berubah menjadi madrasah, demikian pula murid-murid Risale-i Nur menjadi pengajar dan guru; dan insyaallah penjara-penjara yang lain pun, berkat para hoca ini, akan berubah menjadi sekolah.