Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!
Sinar-Sinar · hlm. 496
Pertama: Karena dengan riwayat-riwayat yang sahih beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, "Carilah Lailatul Qadar pada paruh yang terakhir, khususnya pada sepuluh malam yang terakhir," maka kemungkinan bahwa Lailatul Qadar — yang mengaruniakan umur ibadah delapan puluh tahun lebih — jatuh pada malam-malam yang akan datang ini sangatlah kuat; berusaha mengambil manfaat darinya di tempat yang penuh pahala seperti ini adalah sebuah kebahagiaan.
Kedua: Dengan rahasia مَنْ اٰمَنَ بِالْقَدَرِ اَمِنَ مِنَ الْكَدَرِ "Barang siapa beriman kepada takdir, ia aman dari gundah dan kesedihan," dan dengan rahasia kaidah خُذُوا مِنْ كُلِّ شَىْءٍ اَحْسَنَهُ "Pandanglah sisi yang indah dari segala sesuatu,"
اَلَّذ۪ينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ اَحْسَنَهُ اُولٰٓئِكَ الَّذ۪ينَ هَدٰيهُمُ اللّٰهُ وَ اُولٰٓئِكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ maknanya yang sangat ringkas: "Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang paling baik darinya dan tidak memandang yang buruknya, merekalah pemilik akal yang memperoleh hidayah Ilahi." Demikianlah maknanya.
Kini kita harus memandang sisi yang baik, segi yang indah, dan wajah yang membuat hati menjadi lega dari segala sesuatu, agar keadaan-keadaan yang tak bermakna, tak perlu, merugikan, menyusahkan, buruk, lagi sementara itu tidak menarik perhatian kita dan tidak menyibukkan hati kita.
Di dalam Kelimat Kedelapan, dua orang lelaki: yang satu keluar dari sebuah taman, yang lain masuk ke dalamnya. Yang berbahagia memandang bunga-bunga dan hal-hal yang indah di taman itu, lalu beristirahat dengan tenang. Yang lain, yang celaka, memusatkan pandangannya kepada hal-hal yang buruk dan kotor padahal ia tidak sanggup membersihkannya, lalu perutnya mual. Sebagai ganti istirahat ia menderita kesusahan, lalu keluar dan pergi.
Kini, lembaran-lembaran kehidupan masyarakat manusia, khususnya Madrasah Yusufiyah, berkedudukan sebagai sebuah taman. Di dalamnya terdapat bersama-sama hal-hal yang buruk dan yang indah, yang menyedihkan dan yang menggembirakan. Orang yang berakal ialah yang menyibukkan diri dengan hal-hal yang menggembirakan lagi indah, tidak menganggap penting hal-hal yang buruk lagi menyusahkan, dan sebagai ganti mengeluh serta risau, ia bersyukur dan bergembira.