Risale-i NurSinar-Sinar

Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!

Sinar-Sinar · hlm. 510

Aku hendak menuturkan kepada kalian sebuah pertanyaan beserta jawabannya yang terjadi empat puluh tahun lalu, yang menyerupai pertanyaan kemarin. Pada masa lampau itu, karena kuatnya ikatan murid-murid Said Lama dengan ustaz mereka telah sampai kepada derajat berani mati, dan karena komite Armenia serta para pejuang berani mati Tasynak sangat giat bergerak di kawasan Van dan Bitlis, Said Lama pun berdiri menghadapi mereka dan sedikit banyak membungkam mereka. Ia mencarikan senapan mauser bagi murid-muridnya sendiri, sehingga pada suatu masa madrasahnya laksana barak tentara, penuh dengan senjata beserta kitab-kitab; ketika itu seorang letnan jenderal datang, melihatnya, lalu berkata: "Ini bukan madrasah, melainkan barak." Berkenaan dengan peristiwa Bitlis ia diliputi waswas, lalu memerintahkan: "Ambillah senjata-senjatanya." Mereka pun mengambil lima belas pucuk mauser kami yang sampai ke tangan mereka. Satu dua bulan kemudian Perang Dunia meletus. Aku pun mengambil kembali senapan-senapanku. Bagaimanapun juga…

Berkenaan dengan keadaan-keadaan itu, orang-orang bertanya kepadaku: "Komite Armenia yang memiliki para pejuang berani mati yang dahsyat itu takut kepada kalian; sehingga ketika kalian naik ke Gunung Erek di Van, para pejuang berani mati itu menyingkir dari kalian, bercerai-berai, dan pergi ke tempat lain. Gerangan kekuatan apakah yang ada pada kalian sehingga terjadi demikian?"

Aku pun menjawab: "Selama para pejuang berani mati Armenia — yang melakukan pengorbanan luar biasa ini demi kehidupan dunia yang fana, demi manfaat dan keselamatan sementara dari kebangsaan yang kecil lagi negatif — tampak di hadapan kami, sudah pasti murid-murid yang berjuang untuk kehidupan yang kekal selamanya dan untuk manfaat-manfaat positif dari kebangsaan Islam yang suci lagi teramat besar, serta yang berkeyakinan bahwa "Ajal itu satu", tidak akan tertinggal dari para

pejuang berani mati itu {(Catatan kaki): Atas nama saudara-saudaraku, dengan segala kelemahan aku berkata: Jika diperlukan, insyaallah kami akan melangkah jauh lebih ke depan. Kami akan menunjukkan bahwa sebagaimana dalam agama, demikian pula dalam kepahlawanan, kami adalah pewaris nenek moyang kami.}. Jika diperlukan, mereka akan mengorbankan ajal mereka yang pasti itu dan umur beberapa tahun yang lahiriah lagi hanya sangkaan itu — tanpa ragu sedikit pun dan dengan penuh kebanggaan — demi sebuah umur yang jutaan tahun serta demi keselamatan dan manfaat miliaran saudara seagama.