Risale-i NurSinar-Sinar

Sebuah Bagian Penting dari Kata Terakhir

Sinar-Sinar · hlm. 357

Tuan-tuan, Tuan Ketua, perhatikanlah! Menghukum Risale-i Nur dan murid-muridnya, karena secara langsung atas nama kufur mutlak ia berkedudukan sebagai menghukum hakikat Al-Qur'an dan hakikat-hakikat iman, berarti berusaha menutup jalan raya agung yang menuju hakikat dan kebahagiaan dua negeri — jalan yang selama seribu tiga ratus tahun setiap tahunnya dilalui tiga ratus juta orang dan yang ditempuh tiga ratus miliar kaum Muslimin — dan berarti menarik kebencian serta bantahan mereka kepada diri Anda sendiri. Sebab orang-orang yang berlalu-lalang di jalan itu menolong orang-orang yang telah lewat dan pergi dengan doa dan kebaikan mereka. Ia juga berarti menjadi sebab pecahnya sebuah kiamat di atas kepala tanah air yang diberkahi ini.

Kiranya, di Mahkamah Agung, di hadapan tiga ratus miliar penggugat ini, apabila ditanyakan kepada Anda: "Mengapa kalian tidak mengusik karya-karya dan kitab-kitab kaum zindik yang ada di perpustakaan kalian — seperti karya Doktor Dozy dalam bahasa Frenk yang bernama 'Tarih-i İslâm' (Sejarah Islam), yang dari awal sampai akhir seluruhnya menentang keislaman, tanah air, dan agama kalian — dan tidak mengusik kebebasan orang membacanya, padahal murid-murid kitab-kitab itu menurut undang-undang kalian sendiri telah mengambil bentuk perkumpulan; dan mengapa kalian tidak mengusik perkumpulan-perkumpulan yang menentang politik kalian, seperti gerakan tanpa agama, komunisme, anarkisme, komite perusak yang sudah sangat tua, atau Turanisme yang negatif? Mengapa justru kalian mengusik orang-orang yang tidak memiliki hubungan dengan politik apa pun, yang berjalan semata-mata di jalan raya agung iman dan Al-Qur'an, dan yang membaca sebuah karya yang benar-benar haq lagi hakiki seperti Risale-i Nur — tafsir hakiki Al-Qur'an — demi menyelamatkan diri mereka dan warga tanah air mereka dari hukuman mati abadi dan dari kurungan sendirian; dan mengapa persahabatan serta persaudaraan ukhrawi antara sesama orang beragama yang tulus itu, yang tidak memiliki hubungan dengan perkumpulan politik mana pun, kalian beri nama perkumpulan lalu kalian usik? Kalian telah menghukum mereka dan hendak menghukum mereka dengan sebuah undang-undang yang sangat aneh." — ketika mereka mengatakan hal itu, jawaban apakah yang akan kalian berikan? Kami pun bertanya kepada kalian.

Dan kaum zindik serta kaum munafik yang menjadi penentang kami — yang menipu kalian, membingungkan lembaga peradilan, dan menyibukkan pemerintah dengan urusan kami dalam bentuk yang merugikan tanah air dan bangsa — dengan memberi nama "republik" kepada penindasan mutlak, dengan memasukkan kemurtadan mutlak ke bawah nama "rezim", dengan memberi nama "peradaban" kepada foya-foya yang mutlak, dan dengan menyematkan nama "undang-undang" kepada

pemaksaan sewenang-wenang yang kufur — sambil menipu kalian, menyibukkan pemerintah, dan membuat kami porak-poranda, mereka melancarkan pukulan demi pukulan atas nama pihak asing kepada hakimiyah Islam, kepada bangsa, dan kepada tanah air.

Wahai tuan-tuan! Empat kali gempa bumi yang dahsyat dalam empat tahun bertawafuk persis empat kali dengan masa-masa serangan keras dan kezaliman terhadap murid-murid Risale-i Nur; setiap gempa pun datang tepat pada waktu serangan, dan berhentinya gempa terjadi bersamaan dengan berhentinya serangan. Dengan isyarat ini, atas bencana langit dan bencana bumi yang datang bersama penghukuman kami sekarang, kalianlah yang bertanggung jawab!