Risalah Nur — Bahasa Indonesia

TINGKAT CAHAYA HASBIYAH KELIMA

Sinar-Sinar · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

TINGKAT CAHAYA HASBIYAH KELIMA

Pada suatu waktu lagi, kehidupanku terguncang oleh keadaan yang sangat berat. Hal itu mengarahkan perhatianku kepada umur serta kehidupan. Aku melihat: umurku berlari pergi; kehidupanku yang telah mendekati akhir pun mulai padam di bawah tekanan. Namun, aku berpikir dengan sedih bahwa tugas-tugas penting, keistimewaan besar, serta manfaat berharga dari kehidupan, yang dijelaskan dalam risalah mengenai Asma "Hayy", layak memperoleh kehidupan yang sangat panjang, dan bukan cepat padam seperti ini. Aku kembali beralih kepada ayat

ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ,

yang menjadi guruku. Ayat itu berkata, "Pandanglah kehidupan dari segi Zat Yang Hayy lagi Qayyûm, yang memberikan kehidupan kepadamu!"

Aku pun memandang dan melihat: jika hubungan kehidupanku dengan diriku satu, hubungannya dengan Zat Yang Hayy serta Muhyî seratus. Jika hasilnya yang tertuju kepadaku satu, yang tertuju kepada Khâliq-ku seribu. Segi itu tidak memerlukan waktu yang panjang, bahkan tidak memerlukan waktu; hidup selama satu saat sudah cukup. Karena hakikat ini telah dijelaskan melalui bukti-bukti dalam risalah-risalah Risale-i Nur, di sini akan dikemukakan ringkasannya dalam empat persoalan.

PERSOALAN PERTAMA:

Aku memandang hakikat serta kenyataan kehidupan dari segi hubungannya dengan Sang Hayy Yang Qayyûm. Aku melihat dan memahami: hakikat kehidupanku merupakan tempat penyimpanan kunci-kunci yang membuka harta terpendam Asma Ilahi; peta kecil dari ukiran Asma itu; indeks manifestasi Asma itu; alat ukur serta timbangan yang halus bagi hakikat-hakikat besar kainat; dan kalimat Hikmah yang ditulis, yang mengetahui, memperkenalkan, memahami, serta membuat dipahami Asma Sang Hayy Yang Qayyûm yang bermakna dan berharga. Hakikat kehidupan seperti ini memperoleh nilai seribu tingkat; berlangsung selama satu jam pun memperoleh arti penting seperti satu umur penuh. Dari segi hubungannya dengan Zat Azali yang tidak terikat waktu, panjang atau pendeknya tidak diperhitungkan.

PERSOALAN KEDUA:

Aku memandang hak-hak sejati kehidupan. Aku melihat bahwa kehidupanku merupakan surat dari Rabb: ia membuat dirinya dibaca oleh makhluk-makhluk yang memiliki kesadaran, saudara-saudaraku, serta merupakan bahan kajian yang memperkenalkan Penciptanya.

Ia juga merupakan pengumuman yang menampilkan Kesempurnaan Khâliq-ku.

Ia juga berarti berhias dengan sadar melalui hadiah serta tanda berharga yang Sang Pencipta kehidupan anugerahkan melalui kehidupan; kemudian, dalam upacara pembukaan yang berulang setiap hari, mempersembahkannya kepada Pandangan Rajanya Yang Tiada Bandingan, dengan iman, kesadaran, syukur, serta rasa berutang budi.

Ia juga berarti memahami, menyaksikan, serta mengumumkan dengan kesaksian penghormatan seluruh makhluk hidup yang tak terbatas kepada Khâliq mereka, dengan melukiskan Sifat⁠-⁠Nya, serta hadiah tasbih mereka yang penuh syukur.

Ia juga berarti menampakkan berbagai Keindahan Rububiyah Sang Hayy Yang Qayyûm melalui bahasa keadaan, bahasa ucapan, serta bahasa ubudiyah.

Aku mengetahui dengan ilmulyaqin bahwa hak-hak luhur kehidupan seperti ini tidak memerlukan waktu yang panjang; justru meninggikan kehidupan seribu tingkat serta seratus tingkat lebih berharga daripada hak-hak kehidupan duniawi. Aku pun berkata: Sübhanallah! Betapa berharga serta penuh kehidupan iman itu! Ke mana pun ia masuk, ia menghidupkannya. Satu nyalanya memberi kehidupan yang kekal kepada kehidupan fana seperti ini serta menghapus fana pada kehidupan itu.

PERSOALAN KETIGA:

Aku memandang tugas-tugas fitri serta manfaat maknawi kehidupanku yang tertuju kepada Khâliq-ku. Aku melihat: kehidupanku menjadi cermin Sang Pencipta kehidupan dari tiga segi:

Segi Pertama:

Melalui keadaannya yang tak berdaya serta kelemahannya, juga keadaannya yang serba membutuhkan serta kebutuhannya, kehidupanku menjadi cermin Kudrat dan Daya, juga Kekayaan dan Rahmat Sang Khâliq Kehidupan.

Ya, sebagaimana tingkatan nikmat makanan diketahui melalui tingkat rasa lapar, tingkatan cahaya melalui tingkatan gelap, serta tingkatan ukuran panas melalui ukuran dingin; demikian pula, melalui keadaan tak berdaya dan serba membutuhkan dalam kehidupanku yang tiada batas, aku mengenali Kudrat serta Rahmat Khâliq-ku yang tiada batas, dari segi pemenuhan kebutuhan-kebutuhanku yang tiada batas serta penolakan musuh-musuhku yang tiada batas. Aku memahami serta menerima tugas memohon, berdoa, berlindung, merendahkan diri, serta menjalankan ubudiyah.

Segi Kedua:

Melalui makna-makna juz'i dalam kehidupanku, seperti pengetahuan, kehendak, pendengaran, serta penglihatan, ia menjadi cermin Sifat serta Syuun Khâliq-ku yang menyeluruh dan meliputi segala sesuatu.

Ya, melalui banyak makna dalam kehidupanku serta perbuatan-perbuatanku yang sadar, seperti mengetahui, mendengar, melihat, berbicara, dan menginginkan, aku memahami Ilmu Khâliq-ku yang meliputi segala sesuatu; Kehendak serta Sifat-Sifat⁠-⁠Nya seperti Pendengaran, Penglihatan, Kudrat, dan Kehidupan; juga Syuunat⁠-⁠Nya seperti Cinta, Murka, serta Kasih Sayang, pada ukuran yang lebih besar, sebanding dengan besarnya kainat ini dibandingkan diriku. Aku membenarkannya dengan iman dan mengakuinya, lalu menemukan satu jalan makrifat lagi.

Segi Ketiga:

Kehidupanku menjadi cermin Asma Ilahi yang ukiran serta manifestasinya terdapat dalam kehidupanku.

Ya, setiap kali memandang kehidupan serta jasadku, aku melihat karya, ukiran, serta seni yang bersifat mukjizat dalam ratusan cara; aku juga menyaksikan bahwa aku diberi makan dengan penuh kasih sayang. Melalui cahaya iman, aku mengetahui betapa luar biasa Zat yang menciptakan serta menghidupkanku: begitu Dermawan, Penyayang, Berseni, dan Penuh Lutf; begitu menakjubkan Kudrat⁠-⁠Nya—semoga tidak salah dalam ungkapan—begitu Terampil, Waspada, serta Aktif Berkarya. Aku mengetahui apa yang dimaksud dengan tugas-tugas fitrah, tujuan-tujuan penciptaan, serta hasil-hasil kehidupan, seperti tasbih, takdis, hamd, syukur, takbir, pengagungan, tauhid, dan tahlil. Dengan ilmulyaqin, aku memahami sebab kehidupan menjadi makhluk paling berharga dalam kainat; rahasia segala sesuatu ditundukkan kepada kehidupan; Hikmah terdapatnya kerinduan fitri kepada kehidupan dalam diri setiap orang; serta bahwa iman merupakan kehidupan bagi kehidupan.

PERSOALAN KEEMPAT:

Demi mengetahui nikmat serta kebahagiaan sejati dari kehidupanku di dunia, aku kembali memandang ayat

ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ.

Aku melihat:

Nikmat paling murni serta kebahagiaan paling murni dari kehidupanku ini terdapat dalam iman. Yakni, aku beriman dengan pasti bahwa aku adalah makhluk, ciptaan, milik, serta makhluk yang diasuh Rabb Yang Rahîm, yang menciptakan dan menghidupkanku; bahwa aku berada di bawah Pandangan⁠-⁠Nya serta selalu membutuhkan⁠-⁠Nya; dan bahwa Dia adalah Rabb serta Ilahku, juga sangat Penyayang dan penuh Kasih Sayang kepadaku. Iman pastiku itu merupakan nikmat serta kebahagiaan yang begitu cukup dan memadai, tanpa derita, serta terus berlangsung, sehingga tidak dapat dilukiskan. Dari ayat itu, aku memahami betapa tepatnya

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﻧِﻌْﻤَﺔِ الْا۪يمَانِ.

Keempat persoalan mengenai hakikat, hak-hak, tugas-tugas, serta nikmat maknawi kehidupan ini menunjukkan:

Aku menerima pelajaran dari ayat itu bahwa selama kehidupan mengarah kepada Zat Yang Bâqî, Hayy, serta Qayyûm, dan iman menjadi kehidupan serta ruh bagi kehidupan, kehidupan akan tetap ada serta menghasilkan buah-buah yang kekal. Ia juga menjadi begitu luhur sehingga menerima manifestasi Sifat Kekal Selamanya, lalu tidak lagi memperhitungkan panjang atau pendeknya umur. Dengan niat, gambaran pikiran, serta imajinasi, atas nama seluruh kehidupan serta makhluk hidup, aku mengucapkan

ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ.

TINGKAT CAHAYA HASBIYAH KEENAM

Di antara peristiwa akhir zaman yang memberitakan kehancuran dunia, saat perpisahan umum, aku berada dalam keadaan tua serta pada akhir umurku, yang mengingatkanku akan perpisahanku sendiri. Pada waktu itu, dengan kepekaan luar biasa, perasaan fitriku yang memuja keindahan, mencintai keelokan, serta terpikat pada kesempurnaan, berkembang. Dengan kesadaran serta kesedihan luar biasa, aku melihat bahwa lenyap dan fana yang terus berlangsung serta merusak, juga kematian dan keadaan tidak ada yang terus berlanjut serta memisahkan, menghantam dunia yang indah serta makhluk-makhluk indah ini dengan dahsyat, memecah-mecah mereka, serta merusak keindahan mereka.

Ketika cinta majasi dalam fitrahku bergejolak kuat serta memberontak terhadap keadaan itu, demi menemukan sumber penghiburan aku kembali beralih kepada Ayat Hasbiyah. Ayat itu berkata, "Bacalah aku dan perhatikan maknaku dengan saksama!" Aku pun masuk ke observatorium Ayat Nur dalam Surah An-Nur, memandang lapisan-lapisan Ayat Hasbiyah yang paling jauh dengan teropong iman, serta rahasia-rahasianya yang paling halus dengan mikroskop kesadaran iman. Aku melihat:

Sebagaimana cermin, kaca, benda-benda bening, bahkan gelembung, memperlihatkan keindahan tersembunyi yang beragam dari sinar matahari, serta berbagai keindahan tujuh warnanya yang disebut "elvan-ı seb'a"; melalui pembaruan, gerakan, kemampuan yang berbeda-beda, serta pecahnya benda-benda itu, benda-benda itu memperbarui keelokan serta keindahan tersebut. Melalui pecahnya benda-benda itu, benda-benda itu menampakkan keindahan tersembunyi dari matahari, sinarnya, serta tujuh warnanya.

Demikian pula, ciptaan-ciptaan yang indah, makhluk-makhluk yang manis, serta wujud-wujud yang elok ini datang dan pergi tanpa berhenti untuk menjadi cermin Keindahan Suci Sang Jamîl Dzul-Jalâl—Matahari Azali dan Abadi—serta Keindahan yang kekal selamanya dari Asmaulhusna⁠-⁠Nya yang indah tanpa batas, dan untuk memperbarui manifestasi Asma itu. Berbagai keelokan serta keindahan yang tampak pada mereka bukan milik mereka sendiri, melainkan isyarat, tanda, kilau, serta manifestasi Keindahan yang kekal selamanya serta suci, yang ingin muncul; juga Keelokan yang bebas dari materi serta bersih dari kekurangan, yang terus bertajalli dan ingin terlihat. Hal ini telah dijelaskan secara terperinci dalam Risale-i Nur melalui sangat banyak dalil yang kuat. Di sini, tiga bukti tersebut akan diisyaratkan secara ringkas.

BUKTI PERTAMA:

Sebagaimana keindahan karya yang dibuat menunjukkan keindahan perbuatan membuatnya; keindahan perbuatan membuat menunjukkan keindahan gelar kemahiran sang ahli yang berasal dari seni itu; keindahan gelar sebagai seniman pada sang ahli menunjukkan keindahan sifat seniman tersebut yang berkaitan dengan seni itu; keindahan sifatnya menunjukkan keindahan kemampuan serta potensinya; dan keindahan kemampuannya menunjukkan keindahan diri serta hakikatnya. Semua itu ditunjukkan dengan sangat pasti sampai tingkat yang jelas dengan sendirinya...

Demikian pula, keelokan serta keindahan seluruh makhluk yang indah serta semua ciptaan yang dibuat dengan indah di seluruh kainat ini bersaksi dengan pasti atas Keelokan serta Keindahan Perbuatan Sang Seniman Dzul-Jalâl. Keelokan serta Keindahan Perbuatan⁠-⁠Nya menunjukkan tanpa keraguan Keelokan serta Keindahan gelar-gelar yang mengarah kepada Perbuatan itu, yakni Asma. Keelokan serta Keindahan Asma bersaksi dengan pasti atas Keelokan serta Keindahan Sifat-Sifat Suci yang menjadi sumber Asma. Keelokan serta Keindahan Sifat bersaksi dengan pasti atas Keelokan serta Keindahan Syuunat Zat yang menjadi asal Sifat. Keelokan serta Keindahan Syuunat Zat pun bersaksi dengan pasti, sampai tingkat yang jelas dengan sendirinya, atas Keelokan serta Keindahan Zat⁠-⁠Nya—Sang Pelaku, Pemilik Asma, serta Pemilik Sifat—juga Kesempurnaan Suci Hakikat⁠-⁠Nya serta Keindahan Suci Kenyataan⁠-⁠Nya.

Berarti, Sang Pembuat Dzul-Jamâl memiliki Keelokan serta Keindahan yang tiada batas dan layak bagi Zat⁠-⁠Nya Yang Mahasuci, sehingga satu bayangan Keelokan serta Keindahan⁠-⁠Nya memperindah segala yang ada dari awal sampai akhir. Dia juga memiliki Keindahan yang begitu bersih dari kekurangan serta suci, sehingga satu manifestasi Keindahan⁠-⁠Nya memperindah seluruh kainat, serta menghiasi dan menerangi seluruh lingkup segala yang mungkin ada dengan kilau Keelokan serta Keindahan.

Ya, sebagaimana karya yang dibuat tidak ada tanpa perbuatan, perbuatan pun tidak dapat ada tanpa pelaku. Sebagaimana nama mustahil ada tanpa pemilik nama, sifat pun tidak mungkin ada tanpa pemilik sifat. Wujud suatu karya seni serta suatu hasil dengan jelas menunjukkan perbuatan pembuatnya; dan wujud perbuatan itu menunjukkan wujud pelaku, gelarnya, sifat yang menghasilkan karya, serta namanya. Maka, kesempurnaan serta keindahan suatu karya juga menunjukkan, dengan ilmulyaqin dan secara jelas, kesempurnaan serta keindahan khusus perbuatan itu; hal itu menunjukkan keindahan nama yang sesuai dengannya; dan hal itu pun menunjukkan kesempurnaan serta keindahan diri dan hakikat—tentu yang layak serta sesuai bagi diri dan hakikat tersebut.

Demikian pula, kegiatan yang terus berlangsung di balik tabir karya-karya ini mustahil ada tanpa Pelaku. Asma, yang manifestasi serta ukirannya terlihat oleh mata pada ciptaan-ciptaan ini, tidak mungkin ada dengan cara apa pun tanpa Pemilik Asma. Sifat seperti Kudrat serta Kehendak, yang dirasakan sejelas sesuatu yang disaksikan, juga mustahil ada tanpa Pemilik Sifat. Karena itu, seluruh karya, makhluk, serta ciptaan dalam kainat ini, melalui wujud-wujudnya yang tiada batas, menunjukkan dengan pasti Wujud Perbuatan Khâliq, Pembuat, serta Pelaku mereka; Wujud Asma⁠-⁠Nya; Wujud Sifat⁠-⁠Nya; Wujud Syuunat Zat⁠-⁠Nya; serta keniscayaan Wujud Zat⁠-⁠Nya Yang Mahasuci. Demikian pula, berbagai kesempurnaan, beragam keelokan, serta macam-macam keindahan yang terlihat pada seluruh ciptaan tersebut bersaksi dengan sangat jelas, dan menunjukkan dengan sangat pasti, Kesempurnaan yang tiada batas, Keelokan yang tiada akhir, serta berbagai Keindahan Perbuatan, Asma, Sifat, Syuun, dan Zat Sang Pembuat Dzul-Jalâl—Keindahan yang melampaui seluruh kainat, dan yang khusus, sesuai, serta layak bagi masing-masing, selaras dengan Keniscayaan dan Kesucian⁠-⁠Nya.

BUKTI KEDUA

memiliki lima pokok.

Pokok Pertama:

Seluruh pemimpin orang-orang yang menempuh hakikat, meskipun kecenderungan serta jalan mereka berbeda dan berjauhan, dengan bersandar pada pengalaman batin serta apa yang tersingkap bagi mereka, beriman dan menetapkan melalui ijmak serta kesepakatan bahwa keelokan serta keindahan segala yang ada merupakan bayangan, kilau, serta manifestasi di balik tabir dari Keelokan dan Keindahan Suci dalam Zat Wâjibul Wujûd.

Pokok Kedua:

Semua makhluk yang indah terus datang serta pergi, rombongan demi rombongan, lalu masuk ke dalam keadaan fana dan menghilang. Namun, Keindahan yang luhur serta tidak berubah, yang menampakkan Diri serta muncul pada cermin-cermin itu, terus bertajalli. Hal ini menunjukkan dengan pasti bahwa keindahan-keindahan itu bukan milik makhluk-makhluk indah tersebut, dan bukan keelokan cermin-cermin itu. Sebaliknya, seperti keindahan sinar matahari yang tampak pada gelembung di atas air mengalir, semuanya adalah cahaya Keindahan yang kekal selamanya.

Pokok Ketiga:

Sebagaimana jelas bahwa cahaya berasal dari yang bercahaya, pemberian wujud tentu berasal dari yang berwujud, anugerah berasal dari kekayaan, kemurahan hati berasal dari harta, serta pengajaran berasal dari ilmu; demikian pula, pemberian keelokan hanya dapat berasal dari yang elok, memperindah hanya dapat berasal dari yang indah, serta pemberian keindahan hanya dapat berasal dari yang memiliki keindahan. Tidak dapat selain itu.

Berdasarkan hakikat ini, kami beriman bahwa seluruh keindahan yang terlihat dalam kainat berasal dari Zat Yang Indah sedemikian rupa sehingga kainat yang terus berubah serta diperbarui ini, bersama seluruh wujudnya, melalui bahasa pencerminan, melukiskan serta memperkenalkan Keindahan Zat tersebut.

Pokok Keempat:

Sebagaimana jasad bersandar kepada ruh, berdiri, serta memperoleh kehidupan; ungkapan mengarah kepada makna dan menjadi bercahaya menurut maknanya; serta rupa bersandar kepada hakikat dan memperoleh nilai darinya.

Demikian pula, alam yang terlihat, yang bersifat materi serta jasmani ini, merupakan jasad, ungkapan, serta rupa. Ia bersandar kepada Asma Ilahi di balik tabir alam gaib, memperoleh kehidupan; bertumpu pada Asma itu, memperoleh jiwa; mengarah kepada Asma itu, menjadi indah. Seluruh keindahan materi berasal dari keindahan maknawi hakikat serta maknanya sendiri. Hakikat-hakikat itu menerima limpahan dari Asma Ilahi serta merupakan suatu jenis bayangan dari Asma itu. Hakikat ini telah dibuktikan dengan pasti dalam Risale-i Nur.

Berarti, seluruh jenis serta ragam keindahan dalam kainat ini merupakan manifestasi, isyarat, serta tanda, melalui Asma, dari Keindahan yang bertajalli di balik alam gaib, yang suci dari kekurangan serta bebas dari materi. Namun, sebagaimana Zat Yang Mahasuci dari Wâjibul Wujûd tidak menyerupai yang lain dalam segi apa pun, dan Sifat-Sifat⁠-⁠Nya berada pada tingkat yang tiada batas di atas sifat segala yang mungkin ada; demikian pula, Keindahan Suci⁠-⁠Nya tidak menyerupai keelokan segala yang mungkin ada serta seluruh makhluk, dan jauh lebih luhur dengan tingkat yang tiada batas.

Ya, Keindahan yang kekal selamanya, yang satu manifestasinya terdapat pada surga yang sangat besar dengan seluruh keelokan serta keindahannya, dan yang, bila disaksikan selama satu jam, membuat penghuni surga melupakan surga, tentu tidak dapat memiliki batas, keserupaan, tandingan, ataupun persamaan.

Telah diketahui bahwa keelokan setiap hal sesuai dengan dirinya, terdapat dalam ribuan bentuk, serta berbeda-beda sebagaimana perbedaan jenis-jenisnya. Misalnya, keindahan yang dirasakan oleh mata tidak sama dengan keelokan yang dirasakan oleh telinga; keelokan akal yang dipahami oleh akal tidak sama dengan nikmat makanan yang dikecap oleh mulut. Demikian pula, keindahan yang dikagumi serta dirasakan indah oleh hati, ruh, dan indra lahir maupun batin lainnya berbeda-beda, sebagaimana perbedaan indra-indra itu.

Sebagaimana keindahan iman, keindahan hakikat, keelokan cahaya, keelokan bunga, keindahan ruh, keindahan rupa, keindahan kasih sayang, keindahan keadilan, keelokan belas kasih, serta keelokan hikmah berbeda-beda; demikian pula, Keindahan Asmaulhusna Sang Jamîl Dzul-Jalâl yang amat indah itu berbeda-beda. Karena itu, keelokan pada segala yang ada pun tampil berbeda-beda.

Jika engkau ingin menyaksikan satu manifestasi Keindahan Asma Sang Jamîl Dzul-Jalâl pada cermin segala yang ada, pandanglah dengan mata imajinasi yang luas, yang mampu memandang permukaan bumi seperti sebuah kebun kecil. Ketahuilah pula bahwa ungkapan seperti Rahmat Yang Mencakup Semua, Kasih Sayang, Hikmah, serta Keadilan mengisyaratkan Asma, Perbuatan, Sifat, serta Syuun Allah سُبْحَانَهُ.

Pandanglah perbekalan seluruh hewan, terutama manusia, yang datang secara teratur dari tabir gaib; saksikan Keindahan Rahmat Ilahi Yang Mencakup Semua.

Pandanglah pula pemberian makanan yang bersifat mukjizat kepada seluruh anak makhluk, serta dua pompa kecil susu yang manis dan murni seperti air Kautsar, yang tergantung di atas kepala mereka pada dada ibu mereka; saksikan Keindahan Kasih Sayang Rabb yang memikat.

Pandang dan saksikan pula Keindahan Hikmah Ilahi Yang Tiada Bandingan, yang menjadikan seluruh kainat bersama jenis-jenisnya sebagai kitab Hikmah yang besar: kitab yang setiap hurufnya seperti seratus kata, setiap katanya seperti ratusan baris, setiap barisnya seperti seribu bab, serta setiap babnya seperti ribuan kitab kecil.

Pandang dan saksikan pula Keindahan Keadilan yang Megah, yang menempatkan kainat bersama seluruh wujudnya di bawah keseimbangan⁠-⁠Nya; menjaga keseimbangan seluruh benda di atas serta di bawah; memberikan keserasian, salah satu dasar terpenting keindahan; memberi setiap hal keadaan yang paling indah; memberikan hak hidup kepada setiap makhluk hidup dan menegakkan hak; serta menghentikan dan menghukum mereka yang melampaui batas.

Pandanglah pula penulisan riwayat hidup manusia yang lalu dalam daya ingatnya yang sekecil biji gandum; riwayat kehidupan kedua yang akan datang dari setiap tumbuhan serta pohon dalam benihnya; dan alat serta perangkat yang diperlukan untuk menjaga setiap makhluk hidup, seperti sayap-sayap kecil serta sengat berbisa lebah, bayonet kecil bunga berduri, dan kulit keras benih. Saksikan Keindahan yang lembut dari Penjagaan serta Pemeliharaan Rabb.

Pandanglah pula aroma yang berbeda-beda dan indah, warna yang beragam serta berhias, juga cita rasa yang bermacam-macam dan menyenangkan, dari makanan tak terbatas yang disiapkan oleh Rahmat pada hidangan bumi bagi para tamu Ar-Rahmân Yang Rahîm, Sang Karîm Mutlak; serta perangkat-perangkat yang membantu setiap makhluk hidup merasakan nikmat dan kesenangan. Saksikan Keindahan yang sangat manis serta Keelokan yang sangat nikmat dari Ikram dan Kemuliaan Rabb.

Melalui tajalli Asma Fattâh serta Musawwir, pandanglah pula rupa-rupa yang penuh makna dari seluruh hewan, terutama manusia, yang dibuka dari tetes-tetes air; serta wajah-wajah yang sangat memikat dari bunga-bunga musim semi, yang dibuka dari biji-biji serta zarah-zarah kecilnya. Saksikan Keindahan yang penuh mukjizat dari Perbuatan Allah سُبْحَانَهُ Yang Membuka serta Membentuk Rupa.

Dengan membandingkan contoh-contoh tersebut, setiap Asmaulhusna memiliki Keindahan Suci yang khusus sedemikian rupa sehingga satu manifestasi Asma itu memperindah alam yang sangat besar serta jenis makhluk yang tiada batas. Sebagaimana engkau melihat satu manifestasi Keindahan satu Asma pada satu bunga, musim semi pun merupakan bunga, dan surga pun merupakan bunga yang belum pernah terlihat. Jika mampu memandang seluruh musim semi serta melihat surga dengan mata iman, pandang dan saksikanlah. Pahami betapa Megah Keindahan Yang Kekal Selamanya.

Jika engkau menyambut Keindahan itu dengan keindahan iman serta keelokan ubudiyah, engkau menjadi makhluk yang sangat indah.

Jika engkau menyambut dan menghadapinya dengan keburukan kesesatan yang tiada batas serta keburukan kedurhakaan yang dibenci, selain menjadi makhluk paling buruk, engkau juga menjadi pihak yang secara maknawi dibenci oleh seluruh wujud yang indah.

Pokok Kelima:

Sebagaimana seseorang yang memiliki ratusan kemahiran, seni, kesempurnaan, serta keindahan membuat sebuah istana menakjubkan yang memperkenalkan, menampilkan, serta memperlihatkan seluruh kemahiran, seni, kesempurnaan, dan keindahannya yang tersembunyi. Ia melakukannya menurut kaidah bahwa setiap kemahiran ingin ditampilkan, setiap seni yang indah ingin dihargai, setiap kesempurnaan ingin muncul, serta setiap keindahan ingin terlihat. Siapa pun yang memandang istana yang penuh keajaiban itu segera beralih kepada kemahiran, keindahan, serta kesempurnaan pembuat dan pemiliknya; beriman serta membenarkan seolah-olah melihatnya dengan mata sendiri. Ia berkata dan menetapkan, "Seseorang yang tidak indah serta mahir dalam setiap segi tidak dapat menjadi sumber, pencipta, serta pembuat asli tanpa meniru dari karya yang indah dalam setiap segi seperti ini. Sebaliknya, keindahan serta kesempurnaan maknawinya seolah-olah terwujud dalam istana ini."

Demikian pula, orang yang melihat berbagai keindahan pameran keajaiban serta istana megah yang disebut kainat ini, dan yang akalnya tidak rusak serta hatinya tidak sakit, tentu memahami: istana ini merupakan cermin, yang dihiasi demikian untuk memperlihatkan Keindahan serta Kesempurnaan Zat lain. Ya, istana alam ini tidak memiliki contoh lain yang dapat ditiru serta diambil keindahannya. Karena itu, tentu dan dalam keadaan apa pun, Pembuatnya memiliki Keindahan yang layak bagi Diri⁠-⁠Nya dalam Zat serta Asma⁠-⁠Nya. Kainat mengambil keindahan dari⁠-⁠Nya, dibuat sesuai dengannya, serta ditulis seperti kitab untuk mengungkapkannya.

BUKTI KETIGA

memiliki tiga butir hikmah.

Butir Hikmah Pertama:

Ini merupakan hakikat yang dijelaskan dengan uraian yang sangat indah serta hujah yang kuat dalam Bagian Ketiga Kalimat Ketiga Puluh Dua. Dengan menyerahkan perinciannya kepada bagian itu, di sini kami akan memandangnya melalui isyarat ringkas, sebagai berikut:

Kami memandang ciptaan-ciptaan ini, terutama hewan serta tumbuhan, dan melihat: penghiasan yang terus berlangsung, yang menunjukkan Maksud serta Kehendak dan memperkenalkan Ilmu serta Hikmah; juga tindakan menata dan memperindah yang mustahil diserahkan kepada kebetulan, berkuasa pada mereka.

Untuk membuat Seni⁠-⁠Nya dikagumi, menarik perhatian, serta menyenangkan ciptaan⁠-⁠Nya dan para penyaksinya, tampak pada setiap hal Seni yang begitu lembut, Hikmah yang halus, hiasan yang luhur, susunan yang penuh kasih, serta keadaan yang manis. Sampai tingkat yang jelas dengan sendirinya, dapat dipahami bahwa di balik tabir gaib terdapat Seniman seperti itu, yang ingin diketahui serta dikenal oleh makhluk yang memiliki kesadaran. Dengan menampilkan banyak Kemahiran serta Kesempurnaan⁠-⁠Nya melalui setiap karya seni⁠-⁠Nya, Dia ingin dicintai serta dipuji dan disanjung.

Untuk membuat makhluk-makhluk yang memiliki kesadaran merasa berutang budi, bergembira, serta menjadi sahabat⁠-⁠Nya, Dia menganugerahkan kepada mereka segala ragam nikmat lezat dari tempat yang tidak diduga; hal ini sama sekali tidak mungkin diserahkan kepada kebetulan.

Tampak pula Perlakuan maknawi serta mulia, Perkenalan, Percakapan melalui bahasa keadaan yang bersahabat, serta Jawaban penuh kasih kepada doa mereka, yang membuat mereka merasakan Kasih Sayang yang mendalam serta Rahmat yang luhur.

Berarti, Ikram berupa pemberian nikmat serta kesenangan yang disaksikan di balik perbuatan memperkenalkan Diri serta membuat Diri dicintai—yang begitu jelas seperti matahari—berasal dari Kehendak Kasih Sayang yang sangat mendasar serta Hasrat Rahmat yang sangat kuat.

Adanya Kehendak Kasih Sayang serta Rahmat yang begitu kuat pada Zat Yang Sama Sekali Tidak Membutuhkan Apa Pun tentu dan dalam keadaan apa pun menunjukkan bahwa terdapat Keindahan Yang Tiada Bandingan, dalam Kesempurnaan tertinggi; Keelokan Azali Yang Tidak Lenyap; serta Keindahan Yang Kekal Selamanya. Keindahan itu ingin melihat serta memperlihatkan Diri dalam cermin-cermin; muncul merupakan tuntutan Hakikat⁠-⁠Nya, dan tampil merupakan Syuun Kenyataan⁠-⁠Nya. Untuk melihat serta memperlihatkan Diri dalam berbagai cermin, Keindahan itu mengambil rupa Rahmat serta Kasih Sayang; kemudian, dalam cermin-cermin yang memiliki kesadaran, mengambil keadaan sebagai Pemberian serta Kebaikan; kemudian mengambil cara membuat Diri dicintai serta dikenal—yakni memperkenalkan dan memberitahukan Diri—lalu memancarkan cahaya untuk menghiasi serta memperindah ciptaan-ciptaan.

Butir Hikmah Kedua:

Cinta yang kuat kepada Allah سُبْحَانَهُ serta cinta kepada Rabb yang mendalam, yang terdapat dengan sangat mendasar pada manusia, terutama kalangan yang luhur, dalam diri orang-orang tak terbatas dengan jalan yang berbeda-beda, dengan jelas mengisyaratkan, bahkan bersaksi atas Keindahan Yang Tiada Bandingan.

Ya, cinta yang kuat seperti itu mengarah kepada serta menuntut Keindahan seperti itu. Cinta yang demikian menginginkan Keelokan tersebut. Bahkan, seluruh pujian serta sanjungan yang diucapkan segala yang ada melalui bahasa keadaan serta bahasa ucapan mengarah dan menuju Keelokan Azali itu. Bahkan, dalam pandangan sebagian pencinta seperti Syams Tabrizi, seluruh daya tarik, ketertarikan, tarikan, serta hakikat yang memikat dalam kainat merupakan isyarat kepada Hakikat Azali dan Abadi yang memikat. Gerakan serta perputaran penuh tarikan, yang membuat benda-benda serta wujud-wujud menari dan berputar seperti ngengat yang menari laksana darwis Mevlevi, merupakan sambutan penuh cinta serta tugas terhadap kemunculan yang berkuasa dari Keindahan Suci Hakikat Yang Memikat tersebut.

Butir Hikmah Ketiga:

Melalui ijmak seluruh orang yang menyelidiki hakikat, wujud merupakan kebaikan murni serta cahaya; keadaan tidak ada merupakan keburukan murni serta gelap. Para pemimpin orang berakal serta orang yang menempuh jalan hati sepakat bahwa, setelah dianalisis, seluruh kebaikan, kebajikan, keindahan, serta nikmat berasal dari wujud; sedangkan seluruh keburukan, kejahatan, musibah, derita, bahkan maksiat, kembali kepada keadaan tidak ada.